Budidaya Kepiting Bakau Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Konawe Utara

Pertanianku — Penyuluh Perikanan Kabupaten Konawe Utara, Chandra Buana, berhasil meningkatkan kesejahteraan kelompok pembudidaya kepiting Harapan Jaya. Omzet budidaya kepiting bakau tersebut mencapai Rp352 juta pada triwulan pertama usahanya.

budidaya kepiting bakau
foto: PIxabay

Chandra merupakan orang asli Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, menyadari potensi yang dimiliki oleh daerahnya, yaitu lahan luas dan sumber daya air payau yang melimpah.

Awalnya, sebagian besar masyarakat Desa Banggina menggunakan potensi di wilayahnya untuk budidaya ikan bandeng dan udang windu. Namun, usaha tersebut merugi karena ukuran bandeng yang terhambat dan kematian udang windu yang meningkat drastis. Chandra, kemudian, mulai mendorong masyarakat untuk beralih budidaya kepiting bakau.

Kepiting bakau merupakan komoditas yang sangat menjanjikan karena permintaan ekspor dari tahun ke tahun terus meningkat. Oleh karena itu, eksistensi budidaya kepiting bakau mulai bermunculan di berbagai daerah.

“Benih kepiting bakau banyak ditemukan di pesisir kami, di Desa Banggina sendiri terdapat dua pengepul benih kepiting bakau sehingga mudah untuk memulai usaha. Jenis ini juga mudah dibudidayakan, harga jualnya stabil, dan cepat besarnya, jadi cepat balik modal,” ungkap Chandra seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

Chandra mengembangkan budidaya kepiting bakau dengan menggunakan metode padat tebar tinggi. Metode ini belum pernah dilakukan oleh pembudidaya kepiting lainnya. Ide metode ini sempat ditampilkan pada kompetisi Teknologi Tepat Guna yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara pada 2019. Rupanya, inovasi buatan Chandra berhasil menyabet posisi pertama.

Chandra, kemudian, mengembangkan kembali idenya dengan pengusaha asal Sumatera untuk memodernisasi kotak-kotak khusus di tambaknya. Setelah itu, Chandra menyewa satu hektare tambak air payau milik Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Harapan Jaya, Zainuddin Tia.

Baca Juga:  Sebelum Memilih Kolam Terpal, Pertimbangkan Hal Ini Terlebih Dahulu

“Dari situ kami mulai menyiapkan lahan tambak dikelilingi waring kualitas baik, menggunakan paralon sebagai tiang dan memulai penebaran 1 ton benih kepiting dengan berat per kilogramnya berisi 10 ekor benih pada awal Mei,” papar Chandra.

Hampir tiga bulan sejak awal tebar, target Zainuddin dan kelompoknya untuk panen sekitar 400 kg ternyata menyentuh angka 3,2 ton dengan omzet Rp350 juta. Keuntungan nyata tersebut juga terbukti pada kelompok binaan Chandra lainnya yang sedang memulai usaha kepiting bakau. Misalnya, Ketua Kelompok Mappasiddi Sangkala yang mengeluarkan modal Rp1 juta, kemudian dalam tiga bulan berhasil mendapatkan omzet senilai Rp8 juta.