Budidaya Semangka itu Mudah

Pertanianku – Semangka atau yang memiliki nama ilmiah Citrullus lanatus merupakan suku-sukuan mentimun dan masih keluarga dari labu. Semangka adalah tanaman merambat yang berasal dari gurun di Afrika Selatan. Namun, sejalan dengan berkembangnya waktu semangga menyebar hingga keseluruh belahan dunia. Di Indonesia semangga menjadi salah satu buah yang sangat disukai. Masyarakat biasanya mengonsumsi semangga sebagai buah pencuci mulut.

Budidaya Semangka itu Mudah

Daun buah ini berbentuk lekukan pada bagian tepinya. Bunganya berwarna kuning. Buah semangka memiliki kulit yang keras, berwarna hijau pekat atau hijau muda dengan larik-larik hijau tua. Namun, semua itu tergantung kultivarnya, daging buahnya yang berair berwarna merah atau kuning.

Semangka merupakan andromonoecious monoklin, yang artinya memiliki dua jenis bunga pada satu tumbuhan yaitu hanya pada bunga jantan, serta memiliki benang sari (stamen), dan bunga banci/hermafrodit, yang memiliki benang sari dan putik (pistillum). Bunga banci dapat dikenali dari adanya bakal buah (ovarium) di bagian pangkal bunga berupa pembesaran berbentuk oval.

Karena kepopulerannya, semangka banyak dijadikan peluang usaha karena memiliki prospek yang bagus karena jumlah permintaan setiap tahunnya selalu meningkat. Berikut cara budidaya semangka.

  1. Persiapan lahan

Tahap awal sebelum budidaya semangka adalah buat bedengan selebar 1 m dengan ketinggian tanah sekitar 30 cm. tak lupa untuk mengatur jarak antar lubang tanam sekitar 100–120 cm. selanjutnya beri pupuk kandang sebanyak 3 kg per bedengan dengan panjang 2 m. setelah itu biarkan selama 1–2 minggu. Lalu berikan sedikit kapur pertanian jika tanah terlalu asam kemudian campur secara merata. Dalam satu bedengan bisa ditanam satu atau dua baris larikan bibit dengan cara tanam zigzag.

  1. Pembibitan dan persemaian

Setelah persiapan lahan selesai carilah bibit yang unggul dari biji yang dapat dibeli di toko pertanian. Rendam biji dalam air slama 6–8 jam kemudian semaikan dalam media semai dari campuran tanah, pupuk kandang/kompos, dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Rawat dan siram secara rutin sampai keluar 2–3 daun atau sekitar 12–14 hari baru bibit sudah siap dipindah ke lahan tanam. Sebaiknya pindahkan saat sore hari dengan plastik polybag tidak ikut ditanam.

  1. Penanaman
Baca Juga:  Fungsi Penting Bahan Organik di dalam Tanah

Penaman sebaiknya dilakukan sore hari saat matahari tidak terik. Panas matahari berlebih bisa mematikan tanaman muda. Masukkan setiap lubang tanam dengan satu atau dua bibit. Siram secara berkala setiap pagi da sore hari selama 2 minggu berturut-turut. Berikan pemupukan dasar saat 3 hari sebelum tanam. Setelah itu 7–10 hari dengan Urea, ZA, dan NPK dengan dosis 1:1:1 pada jarak 10–15 cm. Setelah 14 harinya lagi berikan pupuk yang sama dengan jarak 20 cm. Selanjunya setelah 14 hari diberi perlakuan yang sama lagi. Begitupun setelahnya lagi, 10–14 hari setelah pemupukan sebelumnya dilakukan pemupukan lagi. Pupuk dapat diberikan 80–90% dari dosis tersebut.

  1. Pemeliharaan

Lakukan penyuluran ranting agar tanaman semangka berbuah lebat dan sehat. Jika terjadi serangan hama maka bisa langsung terlihat dan bisa cepat ditangani. Selanjutnya yang tak kalah penting adalah pendangiran saat tanaman terserang gulma dan rumput liar. Berikan alas jerami pada buah yang sudah tumbuh agar nantinya warna buah tidak jelek karena terkena tanah secara langsung.

Berikan pengairan secara berkala saat tanaman mulai kekeringan dan cuaca sangat panas. Pengairan dilakukan secukupnya janngan sampai tergenang, karena tanaman bisa membusuk. Lakukan juga penyerbukan dan perempelan batang sulur agar pembuahan bisa terkonsentrasi pada beberapa buah yang masih tersisa di pohon. Buah yang tidak optimal harus segera dibuang sehingga untuk setiap pohon hanya dibiarkan tumbuh 1–2 buah besar atau 3–4 buah sedang. Jauhkan dari hama dan penyakit. Jika terlanjur terserang hama penyakit gunakan pestisida dan obat sesuai dosis dan aturan yang tepat.

  1. Panen

Semangka sudah bisa dipanen pada umur 65–70 hari setelah tanam atau 70–75 hari setelah tanam jika di dataran rendah. Untuk hasil panen rata-rata bisa mencapai 25–30 ton per hektar.

Baca Juga:  Soil Block Membuat Budidaya di Kampung Cabai Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan