Budidaya Talas Jepang Satoimo di Indonesia

Pertanianku — Talas jepang (Colocasia esculenta var. antiquorum) atau lebih dikenal sebagai satoimo merupakan komoditas pangan yang mulai populer di Indonesia. Komoditas umbi ini sudah dibudidayakan di Indonesia karena memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus. Kunci keberhasilan budidaya satoimo adalah lokasi yang dipilih. Pasalnya, kesalahan dalam memilih lokasi dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh dengan baik.

satoimo
foto: Pixabay

Berikut ini langkah-langkah budidaya satoimo yang perlu Anda perhatikan.

Memilih lokasi

Satoimo menyukai area terbuka dengan penyinaran penuh dan dengan suhu 25–30C serta tingkat kelembapan yang tinggi. Tanah harus bertekstur remah, berpasir, sistem drainase berlangsung baik, banyak mengandung bahan organik, dan pH tanah sekitar 5,5–7,0. Umbi ini membutuhkan penyinaran matahari selama 10 jam. Namun, Anda perlu memberikan naungan untuk mendukung pertunasan benih.

Hal lain yang perlu Anda perhatikan adalah ketersediaan air. Umbi satoimo membutuhkan tanah yang lembap dan cukup air. Kekurangan air dapat menyebabkan tanaman talas sulit tumbuh atau kerdil. Itu sebabnya talas ini membutuhkan tanah dengan drainase yang baik agar air tidak menggenang di permukaan tanah, tetapi ketersediaan dan tingkat kelembapan tetap terjaga dengan baik.

Bibit

Bibit bisa diambil dari tanaman yang sudah berumur lebih dari enam bulan atau sudah tua. Bibit tersebut merupakan umbi yang sudah melewati masa dormansi yang ditandai dengan tumbuhnya mata tunas. Gunakan umbi yang berukuran 20–50 gram. Anda juga bisa menggunakan bibit talas hasil kultur jaringan dengan tinggi 10–15 cm dan minimal sudah memiliki 2 helai daun. Bibit juga bisa berasal dari tanaman muda yang disapih dari induknya.

Penyemaian

Penyemaian dapat dilakukan di tanah atau dengan polibag. Media semai terbuat dari campuran tanah gembur dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:2. Berikan naungan pada area persemaian dengan atap jerami padi. Bibit yang sudah berumur 0,5–1 bulan dan memiliki 2 helai daun sudah bisa dipindahkan ke lahan pertanaman.

Baca Juga:  Mengenal Pestisida Alami, Pestisida yang Jarang Membunuh Hama

Pengolahan lahan

Sebelum menanam bibit, Anda perlu mengolah lahan agar tanah menjadi gembur dan remah. Pengolahan dilakukan dengan membalik tanah dengan cangkul, sapi, kerbau, atau traktor. Setelah itu, buat guludan dengan lebar 20 cm, tinggi 10–15 cm, dan panjang bisa disesuaikan dengan keadaan lahan. Berikan 1 kg kompos atau pupuk kandang ke dalam lubang tanam. Tambahkan furadan sebanyak 2,5 gram/lubang.

Pemeliharaan

Anda perlu memberikan pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 10–15 gram saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Berikan pupuk organik cair setiap 14 hari sekali dengan cara dikocor.

Lakukan pendangiran dan pembumbunan saat tanaman berumur 3–4 bulan. Pada saat yang bersamaan sebaiknya lakukan pembersihan gulma untuk mencegah serangan penyakit.