Burung-burung Kelaparan Akibat Perubahan Iklim


Pertanianku — Studi terbaru menunjukkan bahwa musim semi yang lebih hangat akibat perubahan iklim membuat burung-burung hutan di Inggris kelaparan. Saat musim semi menghangat lebih awal, jumlah ulat mengalami lonjakan dengan cepat. Hal itu juga terjadi bersamaan dengan banyaknya telur burung yang menetas. Akibatnya, ketersediaan makanan pun tidak tercukupi.

akibat perubahan iklim
Foto: Pixabay

Studi terbaru ini membuktikan bahwa perubahan iklim bisa menjadi malapetaka untuk pergantian musim dan menimbulkan masalah bagi hewan serta tumbuhan yang perilakunya bergantung pada ritme tahunan. Saat hewan bergantung pada pergantian musim untuk mencari makan, tumbuh, dan berkembang, ketidaksesuaian jadwal bisa menjadi masalah yang fatal.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketidaksesuaian waktu perubahan musim bisa menurunkan populasi,” kata dr. Karl Evans, salah satu pemimpin penelitian dari University of Sheffield, dikutip dari National Geographic Indonesia.

Sementara itu, Dr. Malcolm Burgess, peneliti burung di University of Exeter dan RSPB yang menjalankan penelitian menambahkan, hutan memiliki jangka waktu kelimpahan ulat yang pendek. Dengan musim semi yang datang lebih awal akibat perubahan iklim, daun dan ulat muncul lebih cepat.

“Agar kekacauan tidak terjadi, seharusnya burung juga menetas lebih cepat sehingga tidak kehilangan ulat yang menjadi makanan mereka. Namun sayangnya, banyak burung yang tidak bisa melakukannya,” lanjutnya.

Para peneliti fokus kepada tiga spesies burung yang bersarang di Inggris, yakni burung blue tit, great tit, dan burung sikatan belang. Mereka menggunakan data yang dikumpulkan sebagian besar ilmuwan untuk mengeksplor kemunculan musim semi dari pohon ek dan ulat yang memakannya. Selain itu juga waktu menetas ketiga burung tersebut.

“Ketidaksesuaian terbesar terjadi di antara burung sikatan belang. Sebagai burung yang bermigrasi, mereka tidak berada di Inggris saat musim dingin, sehingga kurang mampu merespons cuaca musim semi yang datang lebih cepat,” papar Burgess.

Baca Juga:  Bisakah Gajah Hidup Tanpa Belalai? Yuk, Simak Kisahnya!

Spesies tersebut terbang dari sub-Sahara Afrika pada awal musim semi. Jumlah burung diketahui mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini dikaitkan dengan tumbangnya populasi serangga akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Populasi burung pertanian di Eropa telah menurun lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir.