Burung Pelanduk Kalimantan yang Sudah Punah Ditemukan Kembali

Pertanianku Burung pelanduk kalimantan telah dinyatakan punah sejak 172 tahun yang lalu. Namun, sebuah artikel yang diterbitkan oleh Oriental Bird Club pada 25 Februari 2021 lalu, berhasil menarik perhatian dan menjadi cikal bakal kabar mengejutkan. Pegiat konservasi burung lokal, Rizky Fauzan dan Muhammad Suranto, mengaku tidak sengaja menemukan seekor burung saat sedang melakukan pemantauan burung di hutan Kalimantan Selatan.

burung pelanduk kalimantan
foto: http://ppid.menlhk.go.id/

Rizky merasa belum pernah melihat spesies burung yang ditemukan saat itu. Mereka kemudian mengambil beberapa gambar dari spesies tadi sebelum dilepaskan kembali. Setelah itu, Rizky dan Suranto melaporkan temuannya kepada BW Galeatus dan Birdpacker, dua komunitas pengamatan burung nasional. Selanjutnya, komunitas tersebut berkonsultasi dengan sejumlah pakar ilmu burung (ornitolog) nasional.

Melansir dari Indonesia.go.id, mereka bersepakat temuan Rizky dan Suranto merupakan pelanduk kalimantan yang sudah dianggap punah. Burung ini juga dianggap sebagai teka-teki terbesar di dalam dunia perburungan Indonesia. Panji Gusti Akbar dari Birdpacker menjelaskan, penentuan jenis burung yang ditemui oleh Rizky dan Suranto sebagai pelanduk kalimantan bukan hal yang mudah, pasalnya data mengenai burung yang sudah punah ini sangat sedikit.

Kesimpulan tersebut diambil hanya dari pelanduk kalimantan yang sudah diawetkan sejak ratusan tahun. Awetan tersebut tersimpan di Pusat Biodiversitas Naturalis, Belanda. Foto yang didapatkan dibandingkan dengan awetan tersebut. Dari hasil perbandingan tersebut tampak tiga perbedaan, yakni iris mata, paruh, dan kaki.

Beberapa literatur menjelaskan, pelanduk kalimantan memiliki kaki berwarna merah dan iris matanya berwarna kuning. Namun, rupanya warna kuning pada iris mata burung awetan adalah organ palsu tambahan.

Salah satu rujukan untuk menentukan kemiripan burung temuan dengan awetan adalah karya ilmiah lansiran pakar zoologi dan ornitologi dari Oxford University.

Baca Juga:  Cara Mencegah Burung Kenari Stres

Catatan pertama mengenai pelanduk kalimantan pertama kali dibuat oleh geolog dan naturalis asal Jerman, Carl ALM Schwaner saat melakukan ekspedisi di Hindia Timur ke Kalimantan pada 1843–1848.

Pada 1850 burung yang ditemukan pada ekspedisi tersebut berhasil dideskripsikan sebagai pelanduk kalimantan oleh Charles Lucien Bonaparte, ornitolog Prancis. Bonaparte tidak bisa memastikan asal muasal burung tersebut. Pada 1895, ornitolog Swiss, Johann Buttikofer, memastikan pelanduk kalimantan merupakan spesies endemik Pulau Kalimantan.

Sejak saat itu spesimen awetan menjadi satu-satunya pelanduk kalimantan yang berhasil disimpan. Berdasarkan pengamatan ornitolog Belanda, Gerlof Fokko Mess dalam sebuah penelitian pada 1995, burung ini kemungkinan besar hidup di hutan tropis yang berada di Kota Martapura hingga ibu kota Banjarmasin.