Burung Punya Kompas di Mata Agar Tidak Tersesat


Pertanianku — Pernahkah Anda memerhatikan seekor burung bisa terbang menempuh jarak puluhan kilometer dan bisa kembali ke sarangnya tanpa tersesat? Hal ini juga ternyata membuat para ilmuwan penasaran. Apakah burung punya kompas yang tidak dimiliki binatang lain atau manusia?

burung punya kompas
Foto: Google Image

Pengetahuan burung untuk menavigasi lokasi ternyata telah diselidiki ilmuwan selama beberapa dekade terakhir. Setelah sekian lama, akhirnya para ilmuwan mengetahui kemampuan navigasi burung muncul berkat protein khusus di matanya yang sensitif terhadap cahaya biru dan membantu burung mendeteksi medan magnet bumi. Medan magnet bumi digunakan burung layaknya peta untuk menentukan arah yang harus mereka tuju.

Dilansir Science News, terungkap ada dua temuan yang membuktikan teori baru ini. Studi pertama yang terbit di Current Biology, Senin (22/1/2018) mempelajari burung robin eropa, dan temuan kedua terbit di Journal of the Royal Society Interface, Rabu (28/3/2018) mempelajari burung pipit zebra.

Kedua temuan itu menyebut bahwa protein peka cahaya yang ditemukan di retina itu bernama Cry4 (cryptochromes). Protein ini diketahui terlibat dalam ritme sirkadian atau siklus tidur biologis dan juga bereaksi terhadap medan magnet bumi.

“Interaksi kuantum protein dapat membantu burung merasakan medan magnet,” kata Atticus Pinzon-Rodriguez, ahli biologi dari Universitas Lund, Swedia, yang terlibat dalam pengamatan burung kutilang zebra.

Dalam penelitian terhadap 39 burung pipit zebra, ilmuwan menemukan protein Cry4 terus-menerus ada di retina. Ini menunjukkan protein Cry4 terus diproduksi.

“Asumsi kami, burung selalu menggunakan kompasnya. Baik di siang hari atau malam,” kata rekan peneliti burung kutilang zebra, Lund Rachel Muheim yang juga ahli biologi.

Produksi protein Cry4 secara konstan juga ditemukan pada burung robin eropa. Bahkan, peneliti menemukan bahwa produksi protein semakin meningkat saat musim migrasi.

Peneliti mengatakan, Cry4 pada retina robin eropa dapat menerima banyak cahaya yang dapat berfungsi sebagai kompas. Ini mendukung gagasan bahwa kemampuan melihat medan magnet adalah kemampuan visual yang bergantung pada cahaya.

Ilmuwan yang terlibat dalam penelitian burung robin kini penasaran untuk mengamati apakah burung yang tidak memiliki protein Cry4 pada retinanya juga memiliki kompas internal. Selain itu, temuan yang berkaitan dengan protein Cry4 ini juga masih sangat dibutuhkan untuk mempelajari kemampuan burung menavigasi.