Cabai, Si Pedas yang Selalu Diburu dan Diminati


Pertanianku – Cabai merupakan komoditas sayuran yang penting dan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari luas lahan pertanaman cabai yang mencapai 20% dari total pertanaman sayuran di seluruh Indonesia. Selain itu, manfaat dan kegunaan cabai tidak dapat digantikan oleh komoditas lainnya. Buah cabai yang tidak tahan lama dan selalu dikonsumsi segar membuatnya harus tersedia setiap saat. Itulah sebabnya setiap saat permintaan dan kebutuhan cabai selalu tinggi.

cabai

Tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, cabai merupakan bahan baku industri saat ini. Kebutuhan cabai per kapita di Indonesia sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Jumlah konsumsi cabai terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya. Konsumsi per kapita cabai, cenderung meningkat 1,35 kg pada tahun 2003 menjadi 3,28 kg pada tahun 2007.

Setiap hari cabai menjadi buruan para konsumen, baik di pasar tradisional maupun di swalayan. Kebutuhan dan permintaan cabai cenderung meningkat menjelang bulan puasa dan hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru. Tak hanya itu, cabai kini menjadi komoditas primadona bagi para industri pengolahan makanan, seperti saus dan sambal dalam kemasan. Sejak tahun 2005 telah dibangun kemitraan petani dengan industri saus tertentu yang siap menampung produk cabai segar para petani. Tahun 2008 pasokan per hari ke industri tersebut mencapai 70 ton cabai besar merah, 15 ton cabai keriting, dan 10 ton cabai rawit. Kini kebutuhan bahan baku industri tersebut per hari mencapai 100 ton cabai besar, 20 ton cabai keriting, dan 15 ton cabai rawit. Hal tersebut mendorong meningkatnya minat para petani untuk menanam cabai. Tak heran bila luasan lahan pertanaman cabai meningkat setiap tahunnya.

Baca Juga:  Tips Rahasia Merawat Cabai di Musim Hujan

Saat musim hujan, produksi cabai cenderung menurun sehingga langka. Hal ini mengakibatkan harga cabai meroket mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Kenaikan harga bisa juga diakibatkan oleh kenaikan harga sarana produksi, seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan sewa lahan. Untuk mengurangi pengaruh negatif dari faktor iklim, budidaya cabai bisa dilakukan di dalam rumah tanaman. Produktivitas cabai besar tahun 2014 sebesar 8,35 ton per ha, sedangkan cabai rawit sebesar 5,93 ton per ha. Produktivitas ini masih rendah, dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai 20—30 ton per ha.

Penurunan harga umumnya disebabkan oleh ketersediaan komoditas cabai di pasar yang melimpah. Kondisi tersebut terjadi akibat waktu panen yang bersamaan (panen raya) dan petani secara serentak menjual hasil panennya. Pengetahuan mengenai pascapanen dan pengolahan cabai sangat diperlukan.

Untuk mengatasi permintaan dan kebutuhan cabai yang semakin meningkat, perlu dilakukan suatu usaha agar dapat memproduksi cabai dalam skala besar maupun rumah tangga. Agar cabai dapat tersedia setiap saat, panen cabai harus rutin setiap hari. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengaturan sistem tanam. Pengaturan sistem tanam sebaiknya didukung oleh pengetahuan tentang budidaya cabai di musim hujan maupun musim kemarau. Tujuannya agar dapat menjamin ketersediaan buah cabai setiap hari yang berkualitas tinggi. Dengan demikian, panen cabai tiap hari dapat mengatasi fluktuasi harga cabai yang tinggi dan menguntungkan setiap pihak termasuk para petani dan industri pengolahan cabai.