Cacing Jenis Baru Ditemukan di Tanah Sulawesi


Pertanianku — Ada temuan cacing jenis baru yang membuktikan kekayaan tanah Sulawesi. Pasalnya, selama ini masih banyak biodiversitas cacing tanah yang belum terungkap.

Cacing Jenis Baru
Googe Image

Menurut Fahri, dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, hal itu disebabkan oleh minimnya publikasi diversitas cacing tanah. Meski ada penelitian terdahulu, hanya tiga artikel terkait yang mengulas empat cacing tanah genus Polypheretima di Sulawesi.

Spesies itu antara lain P. elongata (Perrier, 1872) di tenggara Sulawesi, P. everetti (Beddard & Fedarb, 1895) di utara dan barat Sulawesi, P. phacellotheca (Michaelsen, 1899) di timur laut Sulawesi, dan P. stelleri (Michaelsen, 1891) di Sulawesi, Lembah Bone dan Matinang (Easton, 1976, 1979).

“Karena tidak mungkin cuma empat jenis. Sedangkan vertebrata bertubuh besar, monyet jenis Macaca ada tujuh jenis di Sulawesi. Harusnya (cacing tanah) 10—100 kali lipat jumlah jenisnya dari Macaca karena ukuran tubuhnya yang kecil,” kata Fahri, mengutip Antara, Sabtu (10/12).

Fahri melakukan penelusuran biodiversitas cacing tanah Polypheretima itu tidak sendiri. Ia ditemani mahasiswanya Rizki Amaliah, dosen Jurusan Biologi Universitas Tadulako Annawaty, dan Anh D. Nguyen dari Institut Ekologi dan Sumber Daya Hayati, Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vietnam.

Penelitian tersebut didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, melalui hibah penelitian kerja sama antarperguruan tinggi 2017.

Ada lima lokasi yang dijadikan tempat penelitian Fahri dan timnya. Di antaranya perkebunan kakao dan pekarangan di Desa Tangoa, hutan sekunder dekat Danau Kalimpa di Taman Nasional Lore Nidu, hutan sekunder di Cagar Alam Pangi Binangga, Desa Ogotumubu, Desa Margapura, di Sulawesi Tengah.

Fahri dan timnya berhasil menemukan empat jenis spesies baru dari genus Polypheretima yang telah diberi nama, yakni P. cokelat, P. sahlani, P. elongatoides, dan P. kalimpaaensis.

Hasil penelitain tersebut telah dipublikasikan di Raffles Bulletin of Zoology pada 30 Oktober 2017 lalu. Namun demikian, belum semua hasil penelitian dipublikasikan.

Baca Juga:  Sawah Seluas 5,9 Hektare Rusak Akibat Banjir di Bondowoso

Fahri menuturkan, masih ada kandidat spesies baru yang akan diuraikan lebih lanjut. Sebab, empat spesies baru cacing tanah itu hanyalah 10 persen data yang didapat dari hasil penelitian yang dia lakukan.

“Untuk menulis semua itu diperlukan waktu 1—2 tahun. Sedangkan penelitian ini harus dilaporkan di akhir tahun 2017. Jadi saya laporkan data yang sudah saya yakini dulu spesies barunya,” ungkap Fahri.

loading...
loading...