Cara Budidaya Kedelai di Tanah Kering


Pertanianku — Kedelai termasuk dari famili leguminosa yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, susu, dan lainnya. Budidaya kedelai memiliki prospek bisinis yang bagus mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi dan kebutuhan di dalam negeri yang terus meningkat.

Budidaya kedelai
Foto: Shutterstock

Hingga saat ini, Indonesia belum mampu berswasembada kedelai dan untuk memenuhi kebutuhan akan kedelai masih diimpor dari luar negeri. Peluang ini seharusnya dimanfaatkan agar Indonesia tidak selalu bergantung dengan negara lain. Nah, berikut ini langkah-langkah budidaya kedelai yang bisa Anda lakukan di tanah kering.

  1. Syarat tumbuh budidaya kedelai

Tanaman kedelai dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asalkan drainase dan aerasi tanah cukup baik. Pada tanah yang miskin unsur hara (tandus) kedelai masih dapat tumbuh dengan syarat diberi pupuk organik, pupuk kandang, dan pengapuran.

Tanaman kedelai memerlukan pengairan yang cukup selama masa pertumbuhan. Curah hujan ideal antara 100—200 mm/bulan dengan temperatur antara 25—27 derajat Celcius. Budidaya kedelai paling baik dilakukan pada ketinggian 0—900 m dpl dengan sinar matahari penuh, minimal 10 jam/hari.

  1. Persiapan lahan budidaya kedelai

Lahan untuk budidaya kedelai dibajak atau dicangkul terlebih dahulu agar tanah menjadi gembur. Drainase dibuat setiap 5—6 meter dengan kedalaman dan lebar disesuaikan dengan kondisi lahan. Taburkan dolomit jika pH tanah rendah dan taburkan pupuk kandang atau kompos jika lahan kurang subur atau tandus. Bisa juga ditambahkan dengan pupuk TSP, KCL dan Urea dengan perbandingan 2 : 1 : 1.

  1. Persiapan benih budidaya kedelai

Agar mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya benih yang digunakan adalah benih unggul bersertifikat. Benih kedelai yang baik adalah benih yang didapatkan dari tanaman yang berumur cukup tua dan sehat. Kebutuhan benih berkisar 40—50 kg/hektare.

  1. Penanaman budidaya kedelai
Baca Juga:  Tips Rahasia Merawat Cabai di Musim Hujan

Sebelum ditanam, sebaiknya benih diberi insektisida dan fungisida terlebih dahulu agar benih terhindar dari serangan hama dan jamur. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal, dengan jarak tanam 40 × 25 cm atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.

Setiap lubang diisi dengan 2—3 benih, kemudian ditutup tipis dengan tanah. Penanaman yang baik dilakukan setelah hujan turun atau pada saat tanah dalam kondisi basah.

  1. Pemeliharaan dan perawatan budidaya kedelai

Tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air. Pada fase-fase tertentu, tanaman kedelai sangat membutuhkan air dan harus dilakukan pengairan jika tidak turun hujan. Selain itu, gulma atau rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman kedelai perlu dilakukan penyiangan. Jika tidak, tanaman kedelai akan terganggu pertumbuhannya.

Pemupukan susulan perlu dilakukan agar tanaman kedelai tidak kekurangan unsur haranya. Taburkan urea pada fase pertumbuhan, dan pada fase pembungaan sampai fase pembentukan biji/polong berikan pupuk yang mengandung unsur phospor dan kalium, misalnya TSP dan KCL.

  1. Pengendalian hama dan penyakit budidaya kedelai

Hama yang sering menyerang tanaman kedelai antara lain lalat bibit/lalat kacang (Ophiomya phaseoli tryon), lalat buah, ulat grayak, oteng-oteng, ulat penggulung daun, ulat jengkal, penggerek buah, ulat buah, dan penggerek daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lahan dan penyemprotan insektisida tepat sasaran.

Penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai antara lain karat daun, busuk batang, busuk akar, layu, dan bercak daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan memerhatikan sanitasi dan kebersihan lahan serta penyemprotan dengan fungisida.