Cara Cina Pulihkan Hutan Mereka yang Rusak


    Pertanianku — Cina memiliki cara untuk pulihkan hutan mereka yang rusak. Pasalnya, kebijakan pemerintah memengaruhi penggunaan lahan di Cina barat daya antara 2000—2015. Secara keseluruhan, pohon tumbuh sebesar 32%. Akan tetapi, peningkatan pertumbuhan itu sebagian besar berasal dari orang-orang yang mengubah lahan pertanian lama menjadi hutan tanaman monokultur.

    pulihkan hutan
    Foto: Pixabay

    Demikian juga dengan hutan asli yang benar-benar turun 6% karena orang terus menebang pohon hutan untuk membuka jalan untuk dijadikan lahan pertanian. Hal itu terjadi karena para petani memerhatikan kebijakan pemerintah yang jika jenis pohon tertentu dipromosikan, maka mereka cenderung menanam jenis itu.

    Sejauh ini, regenerasi alami dengan meninggalkan lahan agar pohon-pohon asli dapat tumbuh kembali dengan sendirinya telah diabaikan. Akhirnya, para peneliti mendesak pemerintah Cina untuk memberlakukan kebijakan yang lebih kuat guna melindungi hutan asli yang ada dan memfasilitasi pemulihan hutan asli.

    “Hilangnya hutan asli ini didorong oleh kebijakan pemerintah dan kekuatan ekonomi yang mendorong penanaman pohon tetapi gagal untuk memperhitungkan apa yang merupakan hutan bonafid,” kata David Wilcove, penulis yang juga profesor ekologi dan biologi evolusi di Princeton Woodrow Wilson School of Public and International Affairs.

    Semntara itu, penulis co-lead Fangyuan Hua mengatakan, “Profitabilitas memainkan peran penting dalam semua ini.”

    Para peneliti menginvestigasi tutupan pohon di Provinsi Sichuan di bagian selatan-tengah, suatu daerah yang berhutan di masa lalu yang telah melewati periode penggundulan hutan yang berlangsung hingga 1990-an. Wilayah ini telah menjadi bagian dari dua program konservasi hutan terbesar di Cina.

    Kedua program tersebut, yakni Program Perlindungan Hutan Alami, yang bertujuan untuk melindungi. Serta, Reregenerasi hutan dan Program Gandum-untuk-Hijau (Grain-for-Green), yang mengubah lahan pertanian kembali menjadi hutan. Kedua program diharapkan berlangsung hingga setidaknya 2020.

    Menurut penelitian sebelumnya yang dipimpin oleh Hua ketika dia berada di Princeton, program Grain-for-Green ini mengonversi lebih dari 69,2 juta hektare lahan pertanian dan semak belukar kembali ke hutan hingga 2013. Namun, program ini sangat mengarah pada penanaman hutan monokultur, jauh dari memulihkan hutan asli bahkan membahayakan satwa liar.

    Hua dan temannya menyarankan pemerintah Cina untuk merancang mekanisme yang lebih kuat dalam rangka melindungi hutan asli dan mendorong restorasi hutan asli, termasuk regenerasi alami. Tentu saja, regenerasi alami membutuhkan waktu. Lintasan waktu yang tidak diketahui itu bisa menjadi salah satu alasan utama mengapa program reboisasi memilih penanaman pohon aktif sebagai gantinya.

    Namun demikian, temuan ini memberikan beberapa wawasan tentang bagaimana kebijakan dapat diarahkan untuk mencapai keuntungan lingkungan yang lebih baik bagi kawasan.