Cara Memilih Pejantan Sapi Potong yang Bagus

Pertanianku — Seleksi pejantan sapi potong dilakukan untuk memilih bibit yang bagus untuk dikembangbiakan secara umum. Pemilihan pejantan sapi potong dilakukan melalui pemeriksaan atau pengujian yang dilakukan secara bertahap berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu. Proses pengujian tersebut dilakukan dengan menggunakan teknologi tertentu.

pejantan sapi potong
foto: Pertanianku

Pejantan sapi potong yang bagus harus dalam keadaan sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat pada bagian mata (buta), tanduk patah, terdapat kelainan pada tulang punggung, pincang, lumpuh, serta kaki dan kuku terlihat abnormal.

Selain cacat fisik, bibit sapi yang dipilih harus terbebas dari cacat organ reproduksi seperti bentuk serta ukuran testis dan penisnya.

Sapi yang akan dipilih harus melalui uji performans yang meliputi pengukuran, penimbangan, dan penilaian ternak. Pengujian tersebut dilakukan berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatifnya.

Pengujian kualitatif meliputi pengujian ciri khas atau rumpun atau galur ternak sapi, seperti warna dan bentuk yang bisa dibedakan berdasarkan rumpun atau galur ternak lannya. Sementara itu, sifat kualitatif meliputi sifat produktif dan reproduksi.

Seleksi pejantan sapi potong dilakukan berdasarkan performans bobot sapi yang berumur 205 hari, 365 hari, dan 2 tahun. Bobot yang dimiliki oleh pejantan harus berada di atas rata-rata dengan kondisi libido dan kualitas sperma yang baik, serta berpenampilan fenotipe yang sesuai dengan rumpunnya.

Pengamatan kualitas sperma dan libido sapi sudah dilakukan sejak sapi berumur 20 bulan. Bagian testis sudah terlihat menggantung secara simetris dan lingkar scortum lebih dari 32 cm. Pejantan yang memiliki kriteria-kriteria tersebut harus diuji ketahanan panas, resistensi caplak, dan efisiensi pakan.

Pejantan yang sudah terpilih dan lulus uji baru bisa dikawinkan setelah berumur 3 tahun hingga 10 tahun. Pejantan yang berumur 3 tahun sudah bisa mengawini sekitar 75 ekor betina dalam setahun. Kemampuan mengawininya akan semakin meningkat dengan seiring bertambahnya umur sapi.

Baca Juga:  Jenis Domba Asal Luar Negeri yang Ada di Indonesia

Untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas semen yang dihasilkan, pejantan harus digunakan terus sebagai produsen semen sebanyak dua kali dalam seminggu.

Selain itu, pejantan harus mendapatkan perawatan dan pemeriksaan kesehatan yang rutin. Pasalnya, sapi yang baru saja melangsungkan perkawinan rentan terkena penyakit yang bisa ditularkan melalui proses kawin.