Cara Mengatasi Penyakit Busuk Lunak Bunga Anggrek

PertaniankuPenyakit busuk lunak menjadi salah satu kendala yang sering menyebabkan tanaman anggrek, wortel, dan beberapa jenis tanaman lain mengalami penurunan produksi. Tanaman yang terserang tanaman ini memiliki gejala seperti jaringan tanaman yang terinfeksi.

penyakit busuk lunak
foto: Pixabay

Penyakit busuk lunak bisa menyerang tanaman anggrek Oncidium sp., Paphiopedilum sp., dan Phaleonopsis sp. Anggrek Phaleonoposis yang terserang akan memiliki bercak luka hijau kekuningan di bagian organ yang terserang, lalu luka tersebut akan berkembang dengan cepat sehingga menimbulkan pembusukan jaringan dan mati.

Sementara itu, pada jenis anggrek lain, gejala serangan dapat terlihat dari bercak hitam yang menyebar akibat degradasi polimer pektik di dalam dinding sel tanaman yang diakibatkan oleh bakteri.

Pada umumnya penyakit ini disebabkan oleh bakteri gram negatif yang berasal dari genus Pectobacterium dan pektolitik Pseudomonas.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit busuk lunak yang menyerang anggrek di Jawa Barat dan Yogyakarta disebabkan oleh D. dadantii dan Pseudomonas.  Sementara itu, anggrek di DKI Jakarta dan Jawa Barat disebabkan oleh D. dadantii dan P. virdiflava.

Penyebab penyakit busuk lunak bisa hidup di daun yang sehat, sisa jaringan tanaman yang mati, gulma, dan media tumbuh yang ditanami inang. Patogen penyakit ditularkan melalui benih, tanah, sisa tanaman, dan air irigasi yang sudah tercemar dan menginfeksi tanaman anggrek melalui luka yang terdapat pada tanaman.

Penyakit ini dapat semakin parah jika kondisi kelembapan sedang tinggi sekitar 60—80 persen atau temperaturnya tinggi sekitar 25—30°C.

Pengendalian penyakit bisa dilakukan secara terintegritas dengan menggabungkan beberapa teknik pengendalian, seperti menggunakan varietas yang toleran terhadap serangan penyakit dan tanaman transgenik, penggunaan bakteri endosimbion dan mikroba antagonis, dan pengaplikasian bakterisida. Bakterisida yang digunakan adalah Tetrasiklim HCL 30,3 persen SP dengan konsentrasi 0,2 persen yang diaplikasikan pada bagian yang terserang penyakit.

Baca Juga:  Manfaat Terung Lalapan pada Kuliner Khas Sunda

Bakteri endosimbion adalah bakteri yang hidup di jaringan tanaman tetapi tidak menyebabkan kerusakan yang cukup berat. Bakteri endosimbion sudah sering digunakan untuk mengendalikan berbagai penyakit tanaman, seperti pada cabang kopi robusta dan arabika untuk mengendalikan penyakit karat daun yang disebabkan oleh Hemeileia vastatrix.