Cara Mengecek Bakteri Penyebab Penyakit CRD pada Ayam

PertaniankuChronic Respiratory Disease (CRD) merupakan penyakit ayam yang dapat menyebab penurunan produksi telur, kualitas karkas ayam, efisiensi pakan, dan daya tetas. Penyakit CRD dapat menjadi penyebab kerugian pada usaha peternak. Hal ini karena selain menyebabkan hasil produksi menurun, peternak harus meningkatkan biaya pengobatan. Sampai saat ini kasus CRD ataupun CRD kompleks masih menjadi pekerjaan rumah peternakan ayam di Indonesia.

penyakit CRD
foto: Pixabay

Penyebab penyakit CRD adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Bakteri ini juga dapat menyebabkan infectious sinusitis pada kalkun. Infeksi MG pada ayam dapat bersifat klinis ataupun subklinis sehingga ayam menjadi karier atau pembawa. Langkah penting untuk mengendalikan CRD adalah deteksi dini dan monitoring secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Deteksi MG dilakukan secara serologis untuk mengetahui keberadaan antibodi terhadap MG. Deteksi ini sangat penting untuk ayam dengan gejala subklinis. Saat ini screening yang sering dilakukan oleh industri peternakan untuk mendeteksi antibodi MG adalah Elisa (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay).

Saat ini sudah ada inovasi Kit Elisa hasil besutan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet). Kit Elisa dapat mendeteksi antibodi IgG anti-Mycoplasma gallisepticum. Alat deteksi bekerja berdasarkan ikatan antibodi spesifik dengan antigen yang tidak dimobilisasi dan divisualisasikan dengan menggunakan reaksi pewarnaan yang diperoleh secara enzimatik.

Melansir dari laman litbang.pertanian.go.id, Kit Elisa terdiri atas pelat mikro dengan dasar rata yang dilapisi antigen protein solubel yang diekstraksi dari bakteri Mycoplasma gallisepticum galur S6, serum standar positif dan negatif, konsentrat larutan pencuci, konsentrat konjugat, sistem substrat tetramethylbenzidine (TMB), dan larutan penghenti reaksi.

Berdasarkan hasil validasi, Kit Elisa memiliki tingkat akurasi yang mencapai 98,61 persen dengan sensitivitas dan spesifisitasnya sebesar 97,67 persen dan 100 persen.

Baca Juga:  Kotoran Sapi Sumber Pendapatan Tambahan Bagi Peternak