Cara Praktis Budidaya Bayam Jepang untuk Pemula


Pertanianku — Horenzo (Spinacia Oleracea) atau bayam jepang termasuk sayuran dataran tinggi dengan umur panen singkat, hanya 35—50 hari setelah tanam. Budidaya bayam jepang cukup menguntungkan bagi petani sayuran. Jika diusahakan intensif dalam areal seluas 400 m2, dapat dipanen sebanyak satu kuintal.

Budidaya bayam jepang
Foto: Pixabay17

Horenzo memang merupakan sayuran elit bagi masyarakat Indonesia. Tanaman sejenis bayam yang berasal dari Asia tropis ini sekarang menjadi sayuran kegemaran orang Eropa dan Jepang. Daun yang permukaannya halus dengan warna hijau cerah sampai hijau gelap ini memang lezat jika direbus, dikukus, atau ditumis.

Bayam jepang tumbuh baik pada daerah berketinggian di atas 500 m dpl. Di Indonesia, tanaman ini mulai banyak dibudidayakan petani sayuran di daerah Cipanas dan Lembang untuk memenuhi kebutuhan pasar swalayan dan restoran Eropa dan Jepang di Jakarta. Benih sayuran ini biasanya diimpor dari produsen benih di Jepang atau Korea.

Pada dasarnya, budidaya bayam jepang tidak berbeda dengan sayuran lainnya. Bayam ini dapat disemai terlebih dahulu, namun dapat juga langsung ditanam di lahan. Jika disemai terlebih dahulu, kondisi tanaman di lahan dapat lebih seragam, sekalipun ada penyulaman. Namun demikian, cara ini memerlukan lebih banyak tenaga.

Sebaliknya, jika benih langsung ditanam di lahan, tenaga kerja dapat ditekan. Risikonya, keseragaman tanaman di lahan tidak dapat dijamin. Sebelum ditanam, benih direndam dulu dalam air yang telah diberi zat perangsang tumbuh selama satu malam. Esoknya benih diangkat dan ditiriskan, lalu dianginkan.

Jika hendak disemai dulu, wadah semai harus disiapkan sebelumnya. Biasanya digunakan tray yang berisi campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Benih bayam jepang disebar dengan jarak antarbaris 3 cm, lalu disiram. Biasanya setelah satu minggu benih akan berkecambah.

Baca Juga:  Inovasi Unik, Sepatu dari Kulit Ceker Ayam

Lahan untuk penanaman sebelumnya harus digemburkan sambil dibersihkan dari rumput liar, batu, dan benda asing yang mengganggu. Setelah itu, dibentuk bedengan-bedengan selebar 1—1,2 m dengan jarak antarbedengan 30 cm. Tebal bedengan tergantung kondisi cuaca, 25—30 cm jika musim kemarau dan 40—50 cm saat musim hujan.

Bedengan yang terbentuk kemudian ditaburi campuran pupuk TSP dan NPK dengan perbandingan 3 : 1 sebanyak 50—100 gram/m2 dan pupuk kandang 1—2 kg/m2 sebagai pupuk dasar. Bedengan ini kemudian didiamkan selama 1—2 minggu sebelum ditanami. Setelah bedengan siap ditanami, bibit dari pesemaian dipindahkan ke bedengan dan langung disiram untuk menekan stagnasi. Penyulaman dapat dilakukan jika ada tanaman yang mati.

Perawatan tanaman

Agar dapat tumbuh subur, bayam jepang perlu dirawat dengan baik. Karena itu, pada umur 2 minggu tanaman perlu disiangi dan dipupuk menggunakan urea, TSP, dan NPK dengan perbandingan 4 : 1 : 1. Selang 2 minggu kemudian, tanaman dipupuk lagi dengan pupuk yang sama.

Untuk mengendalikan hama dan penyakit, sejak umur 1 minggu tanaman perlu disemprot pestisida. Dosisnya, 2 sendok  makan fungisida dan 3—4 cc insektisida dilarutkan dalam 10 liter air, lalu disemprotkan ke lahan seluas 400 m2. Penyemprotan dapat dilakukan setiap 1—2 minggu tergantung kondisi bayam jepang tersebut, dan dihentikan pada sekitar 10 hari sebelum panen. Untuk menjamin kesuburan daun, setiap 2 minggu disemprotkan pupuk daun bersamaan dengan saat penyemprotan pestisida.