Cegah Kepunahan Siput Gonggong dengan Budidaya

PertaniankuSiput gonggong kerap menjadi hidangan ketika berkunjung ke Belitung, bahkan menu dari binatang laut ini menjadi incaran para pencinta kuliner. Rasanya lezat dan mudah dinikmati, tinggal mencungkil daging siput dengan tusuk gigi. Di Kepulauan Bangka Belitung, siput gonggong dijadikan sebagai ikon, patung binatang ini bertebaran di setiap sudut kota.

siput gonggong
foto: Trubus

Ada 3 jenis siput dari famili Strombidae (siput gonggong), yakni S. turturella, S. canarium, dan S. luhuanus. Habitat ketiga siput tersebut adalah daerah pasir berlumpur dengan kedalaman 3–4 m dan banyak ditumbuhi lamun atau rumput laut sebagai sumber pakan. Dua jenis di antaranya banyak ditemui di bagian barat wilayah Indonesia, terutama di Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Sementara itu, S. luhuanus banyak ditemukan di perairan Indonesia bagian timur.

Sayangnya, semakin tinggi popularitas kelezatan siput gonggong membuat banyak orang tertarik memburunya. Hal ini disebabkan oleh permintaannya yang tinggi. Penangkapan dilakukan tanpa pandang bulu, bahkan siput betina produktif yang tengah bertelur pun tetap diambil. Apabila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kemungkinan besar populasi siput gonggong di alam akan berkurang drastis.

Melihat permasalahan tersebut, tim peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI melakukan upaya budidaya siput gonggong. Setelah diteliti selama 2–3 tahun, tim peneliti berhasil memijahkan dan membesarkan siput. Dalam satu kali memijah, siput menghasilkan 75.000–95.000 telur. Telur tersebut berukuran 2–2,5 mikron dan terbungkus larutan jel seperti kapsul yang terangkai dalam untaian panjang seperti benang kusut.

Untaian benang kusut terbuat akan membentuk koloni di dasar perairan atau menempel pada benda-benda keras seperti cangkang induk. Di dalam kapsul, telur-telur yang sudah dibuahi akan mengalami perkembangan dan membelah jadi 2, 4, dan 8 sel hingga terbentuk embrio yang siap menetas. Masa inkubasi embrio dalam kapsul berlangsung selama 3 hari.

Baca Juga:  Rumput Laut Asal Tual dan Maluku Disiapkan Jadi Komoditas Ekspor

Setelah menetas, akan keluar larva veliger yang berenang bebas di bak air. Tiga hari berselang larva mengendap di dasar bak karena bobotnya semakin bertambah. Cangkang pun mulai terbentuk dan larva sudah bisa mengonsumsi pakan alami.

Pakan alami siput gonggong adalah renik fitoplankton dari jenis Chlorella sp. yang melayang di air. Fase ini dijalani siput selama 2 minggu hingga larva berukuran 1–3 mm dan bentuknya mirip dengan induk.

Anakan dipelihara selama 4 bulan hingga mencapai ukuran 2 cm. Selanjutnya, siput siap ditebar di dalam kolam. Agar pertumbuhannya optimal, lokasi budidaya sebaiknya berada di daerah pasir berlumpur yang dilimpahi lamun sebagai sumber pakan.