Cek Kelayakan Daging dengan Tes Pack


Pertanianku – Pasti Anda heran bukan bagaimana bisa mengecek kelayakan daging menggunakan test pack. Seperti yang diketahui, test pack digunakan oleh wanita untuk mengetahui apakah ia positif hamil atau tidak.

Foto: unsplash

Belakangan teknologi test pack juga digunakan untuk mengetahui apakah daging yang akan dikonsumsi oleh manusia tercemar daging celeng atau tidak. Temuan ini merupakan langkah maju dalam teknologi pangan dalam negeri.

Seorang peneliti dari Fakultas Peternakan dan Laboratorium Imunobiologi Universitas Mataram, Sulaiman N. Depamede mengenalkan teknologi test pack pada daging tersebut. Hal ini berawal dari keprihatinannya terhadap maraknya daging sapi yang tercemar celeng pada daging bakso yang dijual oleh pedagang. Beberapa pedagang bahkan dengan sengaja mencampur celeng dengan daging sapi demi mengeruk keuntungan.

Kasus-kasus daging sapi yang tercemar daging celeng ini belakangan kian marak. Hal ini membuat masyarakat resah dikarenakan masyarakat awam sulit untuk mendeteksi apakah daging sapi itu murni atau sudah tercemar.

Untuk mengetahui tingkat kemurnian daging sapi itu harus melalui uji laboratorium dengan peralatan khusus yang dikenal PCR (Polimeration Chair Reaction) dengan biaya yang tidak murah.

Prosesnya pun terbilang cukup njelimet. Pasalnya, PCR itu menggunakan DNA daging sapi. Dan, uji daging ini hanya bisa dilakukan oleh para ahli dengan peralatan khusus. Di satu sisi keberadaan laboratorium itu masih sedikit jumlahnya. Padahal, kasus daging tercemar meningkat hingga 200 kasus sejak tahun lalu.

Hal inilah yang lantas membuat Sulaiman berinovasi dan mengembangkan tes pack atau tes aliran lateral (lateral-flow assays). Penyandang gelar doktor dari Universitas Adelaide, Australia Selatan, itu mengembangkan strip tes menggunakan metode uji cepat imunodiagnostik untuk memastikan adanya cemaran komponen daging celeng pada daging sapi mentah.

Baca Juga:  Lebih Sehat Daging Kambing atau Daging Domba? Ini Jawabannya!

Cara kerja test pack tersebut adalah komponen strip tes yang terdiri atas partikel atau koloid emas (alat pendeteksi) “diikatkan” dengan antibodi terhadap komponen daging babi (poliklonal IgG babi).

“Saat riset kami lakukan, kami mengimpor koloid emas dan antibodi poliklonal IgG babi. Harga per miligram antibodi itu sekitar Rp3—Rp5 juta,” ucapnya.

Riset kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan bahan kimia berupa larutan atau buffer, membran nitroselulosa (tempat proses reaksi), bantalan tempat menaruh konjugat (sampel), dan kertas hisap.

Lalu, ia memanfaatkan reaksi antara antigen-antibodi pada membran nitroselulosa yang ditunjukkan dengan warna merah asal partikel emas. Metode tersebut dinamakan metode imunodiagnostik.

“Prinsip pengembangan metode tersebut dilakukan dengan mengonjugasikan koloid emas sebagai penanda dengan antibodi poliklonal IgG babi. Lalu, konjugat diletakkan pada bantalan konjugat (sampel), salah satu bagian dari sistem strip tes imunokromatografi. Strip tes ini kemudian digunakan untuk uji ada-tidaknya cemaran komponen daging celeng,” ungkapnya.

Jika daging sapi itu tercemar daging celeng, test pack akan menunjukkan dua strip berwarna merah. Jika sebaliknya hanya satu strip yang berwarna merah, daging bebas dari tercemar.

“Cara kerjanya tinggal menaruh sampel daging sapi yang dihaluskan pada badan strim,” lanjutnya.

Biaya test pack tersebut pun cukup terjangkau, hanya sekitar Rp10.000. Teknologi ini bisa membuat peluang bagi yang ingin memproduksi secara massal. Pasalnya, pengguna test pack ini sangat beragam mulai dari ibu rumah tangga, pengelola restoran hingga institusi terkait seperti Badan Karantina Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

loading...
loading...