Celepuk Jawa, Burung Hantu yang Berukuran Relatif Kecil

Pertanianku Burung celepuk jawa (Otus angelinae) di daerah Gunung Slamet lebih dikenal dengan nama buwek/buek. Burung hantu ini merupakan pemangsa nokturnal yang aktif mencari pakan atau mangsa pada malam hari, sedangkan pada siang hari burung akan beristirahat. Di antara 13 spesies burung hantu yang ada di Jawa dan Bali, burung celepuk jawa termasuk kategori burung dengan sebaran terbatas.

burung celepuk jawa
foto: PIxabay

Ukuran celepuk jawa relatif kecil, panjang tubuh burung dewasa hanya berkisar 19–20 cm. Kaki dan paruhnya pendek, tetapi kokoh. Ciri khas celepuk jawa terletak pada jumbai telinga yang menonjol. Bagian tubuh secara keseluruhan mirip dari kepala hingga ujung ekor, seluruh bagian tersebut berwarna seperti batang kayu, yakni totol-totol kombinasi cokelat gelap, putih kotor, dan sedikit hitam.

Pada bagian paruh dan kaki antara burung jantan dan betina terdapat sedikit perbedaan. Akan tetapi, pada bagian iris matanya cenderung mirip. Iris mata betina berwarna kuning emas dengan paruh berwarna kuning tua/gelap serta memiliki sisi keabu-abuan di bagian maxilla-nya.

Sementara itu, celepuk jawa jantan memiliki iris yang berwarna cokelat kuning emas, bagian paruh berwarna krem/kuning muda, dan kaki berwarna krem atau kuning muda. Ciri khas celepuk jawa terletak pada sayap yang tumbuh lebih panjang daripada ekornya. Bulu pada sayap terlihat berwarna hitam kusam dengan bercak blurik bergaris putih tipis. Adapun bulu-bulu di bagian sayap dalam berwarna hitam.

Burung hantu ini hidup di hutan-hutan pegunungan tinggi yang amat terbatas, hanya berada di wilayah Jawa bagian barat. Oleh karena itu, celepuk jawa disebut sebagai burung endemik Jawa Barat. Penyebarannya hanya sebatas di kawasan Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan Gunung Ceremai.

Baca Juga:  Waspadai Penyebab Burung Kenari Lumpuh

Celepuk jawa memakan serangga-serangga besar dan kumbang-kumbang di malam hari. Belum ada informasi yang lebih rinci mengenai cara burung hantu ini mencari makan di hutan alami dan kapan musim berbiaknya. Namun, dilaporkan, celepuk jawa bisa bertelur sebanyak 3–4 butir. Rata-rata telur yang dihasilkan berukuran 32,50×28,20 mm.