Cucakrawa, Burung Kicau Kelas Atas yang Kian Langka di Habitat Asli

Pertanianku — Para penggemar burung kicau pasti sudah tidak asing dengan burung cucakrawa, burung kicau kelas atas yang banyak disukai oleh pehobi. Suara kicau burung ini masih terbilang sangat populer meskipun warna bulu di tubuhnya tidak semenarik burung kicau lain, seperti kepodang ataupun kutilang.

burung cucakrawa
foto: Pertanianku

Penampilan yang kurang menarik tidak lantas membuat burung kicau ini sepi peminat. Justru, burung cucakrawa termasuk burung kicau dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Bahkan, semakin tinggi kharisma burung, akan semakin tinggi pula harga jualnya.

Suara kicau burung cucakrawa termasuk kelas atas. Oleh karena itu, jangan heran kalau pemilik burung ini berasal dari kalangan kelas atas dengan penghasilan yang cukup baik.

Namun, tidak semua cucakrawa bernilai mahal. Ada juga beberapa bakalan cucakrawa yang harganya cukup murah, tetapi kualitasnya kurang bagus. Suara cucakrawa tersebut sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan kesabaran dan kemauan yang kuat karena prosesnya yang panjang.

Di habitat aslinya, cucakrawa hidup di pohon yang tumbuh di daerah rawa atau hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan bersemak. Cucakrawa sangat senang daerah yang terkena air. Sumber air tersebut sering digunakan burung untuk mandi, bercengkerama dengan pasangan ketika musim kawin, dan juga sebagai sumber air minum.

Selain air, burung cucakrawa dapat lebih mudah ditemukan di daerah yang menyediakan sumber makanan yang dibutuhkan. Misalnya, buah-buahan seperti pepaya, pisang, ceri, dan jambu. Cucakrawa juga sering mengonsumsi serangga, seperti belalang, ulat daun, kupu-kupu dan lalat. Burung cucakrawa akan bergerombol atau bersama pasangannya ketika mencari makan.

Cucakrawa biasanya tidur di bagian ranting pohon yang agak tinggi. Hewan ini akan tidur dengan cara memasukan kepala ke sayap untuk melindungi bagian kepala dari terpaan angin malam yang dingin. Sayangnya, kondisi tidur seperti itu menyebabkan cucakrawa sangat rentan ditangkap oleh penangkap burung. Para pemburu akan mencari burung pada malam hari, di saat burung sedang tidak aktif.

Baca Juga:  Siklus Hidup Rajungan

Meskipun lebih sering mendiami ranting di bagian paling atas, ketika musim kawin burung akan membuat sarang di tempat yang rendah, seperti di semak-semak, ranting pohon, atau tandan pisang. Umumnya, cucakrawa bertelur sebanyak 2—3 kali dalam satu musim kawin.

Karena permintaan pasar yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan penangkaran, populasi cucakrawa di habitat aslinya menjadi semakin berkurang. Jika dahulu penangkapan sering dilakukan dengan menggunakan jaring, kini penangkapan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan jebakan. Hasil yang didapatkan pun tidak bisa diharapkan seperti dahulu. Ini menjadi pertanda populasi cucakrawa di habitat aslinya sudah mulai berkurang.