Dahulu Telur Burung Berwarna Hijau Kebiruan, Mitos atau Fakta?


Pertanianku – Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada pada 145,5 juta hingga 65,5 juta tahun lalu telur burung dipercaya memiliki warna hijau kebiruan. Hal ini berdasarkan penemuan cangkang telur yang terawetkan.

Foto: pixabay

Saat ini memang telah banyak ragam warna telur burung yang dapat ditemui. Temuan ini menjadi pengetahuan mengenai warna telur burung purba dalam keluarga dinosaurus. Selain itu, studi tersebut juga mengungkap kebiasaan bersarang burung pada saat itu.

Warna telur itu dihasilkan oleh dua pigmen warna, yakni biliverdin dan protoporphyrin. Pigmen biliverdin menghasilkan warna hijau kebiruan dan protoporphyrin menghasilkan palet cokelat kemerahan. Biasanya, warna ini muncul berupa bintik-bintik atau corak lainnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa warna telur burung tersebut berguna untuk menyamarkan dan melindungi dari predator.

Terdapat dua pigmen warna pada telur burung purba jenis Heyuannia Huangi. Penelitian menunjukkan adanya kandungan biliverdin yang lebih tinggi. Dengan demikian, seluruh lapisan telur itu lebih didominasi oleh warna hijau kebiruan.

Pigmen biliverdin dan protoporphyrin biasanya berkaitan dengan aktivitas mikroba. Namun, hal ini masih belum diketahui pasti apakah dalam cangkang telur oviraptoridae itu memang mengandung unsur mikroba.

Terlebih lagi, pigmen tersebut tidak terdapat dalam sedimen yang mengelilingi telur yang menunjukkan bahwa senyawa penghasil warna berasal dari telur, bukan bagian dari mineral maupun mikroba.

Oviraptoridae dikenal memiliki kebiasaan bersarang di atas permukaan tanah. Telur-telurnya berbentuk lonjong dan disimpan secara melingkar dan tumpang tindih. Hal ini menimbulkan kemungkinan antara evolusi warna telur dan juga kebiasaan bertelur.

“Potensi penyelidikan masa depan didorong oleh kemungkinan keterkaitan antara warna telur yang hijau kebiruan dan sarang komunal burung,” ungkap peneliti yang mempublikasikan studi ini pada 29 Agustus 2017 lalu, ke laman Journal Peerj, seperti melansir dari Live Science.

Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Pulau Komodo Perlu Ditata Ulang
loading...
loading...