Mengenal Sistem Degradasi Lahan Sawah


Pertanianku – Revolusi hijau yang berawal di Eropa (abad ke-19) dan pengaruhnya hingga ke Amerika Utara (1850—1950) telah berhasil mengubah pola pertanian dunia. Dampak revolusi ini ditengarai karena penggunaan bahan agrokimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimia secara intensif sehingga dapat meningkatkan produksi usaha pertanian, terutama tanaman pangan. Konon, hasil dari revolusi hijau ini mampu meningkatkan produksi komoditas pangan di kawasan Eropa.

Di Indonesia, teknologi revolusi hijau digulirkan sejak tahun 1960dan menunjukkan dampak positif terhadap kenaikan produksi padi  nasional. Produksi padi nasional yang hanya 18 juta ton pada tahun1970, meningkat menjadi 54 juta ton pada tahun 2004 atau kenaikan Produktivit as lahan yang sebelumnya hanya 2,25 ton/ha menjadi 4,58 ton/ha (Irsal dkk., 2006).

Meskipun awalnya terlihat indah, seiring dengan berjalannya waktu, revolusi hijau memunculkan berbagai dampak negatif, antara lain adanya kecenderungan meningkatnya pasokan energi dari luar yang tinggi, terutama untuk pupuk dan pestisida kimia. Intensifikasi teknologi revolusi hijau berdampak pada penggunaan pupukyang meningkat hampir enam kali lipat. Pada tahun 1970, rata-rata penggunaan pupuk sekitar 63 5 ribu ton dan menjadi 4,42 juta ton pada tahun 2003. Pada tahun 2010 konsumsi pupuk mencapai 10 juta ton.

Menurut Irsal dkk. (2006), penggunaan pupuk oleh petani umumnya berlebihan, misalnya penggunaan pupuk urea (N) yangkisarannya mencapai 100—800 kg/ha, pupuk fosfat mencapai (P) 300kg/ha, dan kalium (K) mencapai 250 kg/ha. Selain itu, terjadi kecenderungan peningkatan penggunaan pestisida kimia. Menurut catatan, penggunaan pestisida kimia pada tahun 1978 mencapai 5.234 ton dan pada tahun 1986 setelah teknologi revolusi hijau digulirkan mencapai 18.000 ton (Irsal, dkk., 2006).

Fenomena kejenuhan tanah terhadap produk agrokimia antara lain disebabkan oleh adanya residu pupuk dan terbentuknya limbah logam berat seperti timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Penelitian yang dilakukan di daerah Pantura Jawa oleh Ardiwinata dkk (1999) serta Kasno dkk (2003) menunjukkan bahwa 21—40% lahan sawah sudah tercemari oleh kedua jenis logam tersebut. Ditemukan pula bahwa 4—7% dari lahan tersebut dapat dikategorikan terkontaminasi berat, dengan kandungan Pb > 1,0 ppm dan Cd mencapai > 0,24 ppm. Selain itu, pupuk (N) juga mengakibatkan pencemaran senyawa nitrat (NO3) pada sumber daya air (irigasi, air tanah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 85% air irigasi sawah di Jawa mengandung 5,40 ppm nitrat, sedangkan batas ambang tertinggi yang diperbolehkan hanya 4,50 ppm (Irsal dkk., 2006).

Baca Juga:  Membuat Pupuk Organik dari Buah Maja

Dengan melihat perkembangan dampak dari teknologi revolusi hijau, disadari ataupun tidak, telah mengakibatkan permasalahan baru pada sektor pertanian. Salah satunya adalah terjadinya laju penyusutan lahan pertanian di Indonensia yang diperkirakan mencapai 110 ribu ha/tahun. Sekiranya gambaran ini dapat menjadi perhatian bagi berbagai pihak dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan serta memperbaiki produktivitas lahan dan kesehatan. Salah satunya perlu dikembangkan dan digalakkan kembali sistem pertanian organik dan pemenuhan kebutuhan infrastruktur pupuk organik untuk mengganti bahan agrokimia konvensional.

 

Sumber: Buku Petunjuk Penggunaan Pupuk Organik

loading...
loading...