Delapan Spesies Tumbuhan Unik yang Baru Ditemukan Tetapi Terancam Punah

Pertanianku — Destario Metusala dan Wisnu Handoyo, peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PPKTKR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan beberapa spesies tumbuhan unik. Tujuh di antaranya terancam punah karena hanya tersebar di aera yang relatif sempit.

spesies tumbuhan unik
foto: Indonesia.go.id

“Sehingga diduga lebih rentan terhadap ancaman kepunahan seandainya terjadi degradasi habitat maupun over collecting (dikoleksi secara berlebihan),” tutur Destario seperti dikutip dari laman indonesia.go.id.

Berikut ini delalapan spesies tumbuhan unik yang baru saja ditemukan selama pandemi.

Bulbophyllum acehense

Tumbuhan ini merupakan anggrek epifit yang tumbuh alami di hutan Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Bunga anggrek jenis ini berwarna kuning cerah mengilap, berlilin, dan bercorak halus dengan garis-garis kuning pekat. Anggrek ini memiliki perbungaan tunggal yang muncul pada bagian ruas-ruas rhizome-nya.

Dendrobium rubrostriatum

Tumbuhan ini juga merupakan anggrek epifit yang tumbuh di kulit batang pepohonan. Perbungaan tanaman muncul di bagian batang semu pipih pada ujungnya. Bunga tumbuhan terbilang kecil, tetapi kombinasi warna bunga cukup mencolok. Spesies ini ditemukan hutan di dataran rendah Kalimantan Barat pada ketinggian 200—300 m dpl.

Nepenthes putaiguneung

Tumbuhan ini merupakan spesies karnivora yang sering dikenal dengan nama kantung semar atau periuk monyet. N. putaiguneung memiliki kantung berukuran 2—13 cm, lebar 1,5—2,3 cm, bibit peristome berwarna merah mengilap, serta bersusuk pendek. Kantung bagian atas terbilang lebih ramping berukuran 8,5—15 cm dengan lebar 1,4—2 cm dan bagian bibirnya berwarna kehijauan.

Nama spesies ini diambil dari bahasa lokal Kerinci, yaitu putai (puteri) dan gunueung (gunung). Spesies ini membutuhkan perlindungan dari ancaman pengoleksian yang tidak terkendali.

Dendrobium sagin

Spesies anggrek ini berasal dari hutan alami di Papua Barat. Spesies ini memiliki bunga berukuran besar dengan lebar sekitar 3—4 cm dan bunganya berwarna putih bersih serta bersemburat kekuningan. Sayangnya, masa mekar bunga ini tidak begitu lama, hanya sekitar 1—2 hari. Nama sagin pada spesies ini diambil dari bahasa lokal Suku Moi di Papua Barat yang berarti rambut.

Baca Juga:  Sosialisasi Peraturan tentang Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan

Begonia enoplocampa

Begonia ini hanya dapat dijumpai di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Spesies ini sangat mudah dikenali dari batangnya yang berupa rhizome, daun berbentuk bundar telur melebar dengan bagian tepian daun yang bergerigi. Spesies begonia ini memiliki bunga berwarna putih dengan jumlah perhiasan empat helai tenda bunga pada bunga jantan dan tiga helai tenda bunga pada bunga betina.

Begonia tjiasmantoi

Spesies ini merupakan endemik Pulau Sulawesi yang hanya dapat ditemui di Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Spesies begonia ini terbilang unik karena memiliki kombinasi karakter yang jarang ditemukan pada spesies begonia lainya. Penampilannya kecil dengan tinggi hanya sekitar 15 cm. Daun tanaman berbentuk elips dengan warna kecokelatan disertai dengan hijau terang di bagian permukaan atas dan merah marun di permukaan bawah.

Bunga spesies ini berwarna kuning, warna yang sangat langka untuk spesies-spesies Begonia yang ditemukan di Asia. Sayangnya, spesies ini terancam punah karena habitat aslinya sudah dialihfungsikan menjadi kebun kopi.

Begonia sidolensis

Spesies ini merupakan tumbuhan endemik Sulawesi Tengah dan hanya dapat dijumpai di sekitar Gunung Sidole, Kabupaten Donggala, Sulawesi tengah. Spesies ini sangat berbeda dengan Begonia yang ditemukan di Sulawesi karena perawakannya kecil dengan batang yang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah. Daun tanaman berbentuk seperti telur, berwarna kemerahan disertai bercak atau semburat hijau keperakan.

Etlingera tjiasmantoi

Spesies ini termasuk suku jahe-jahean (Zingiberaceae) yang saat ini hanya dapat ditemukan di Pegunungan Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.