Dilema Penggunaan Pupuk Anorganik


Pertanianku – Hingga saat ini peranan pupuk anorganik dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan hasil panen komoditas pangan merupakan andalan utama karena pelaksanaannya masih menganut pada konsep intensifikasi pertanian meskipun lahan yang belum termanfaatkan masih cukup luas.  Contoh ketergantungan pada pupuk anorganik untuk usaha tani dan produksi pangan dapat dilihat pada Tabel 2 tentang kesepadanan antara kebutuhan pupuk dan target hasil panen dari tahun ke tahun untuk memenuhi kecukupan stok beras nasional.

Dilema Pupuk Anorganik

Cara bertani yang sangat tergantung pada pupuk anorganikatau pupuk kimia sudah sangat terasa dampaknya. Namun, di sisi  lain harga pupuk yang fluktuatif menjadikan kendala pada upaya produksi pangan hingga menjadi sangat mahal. Contohnya, biaya pupuk NPK di pasar bebas jika tanpa subsidi, dapat mencapai harga Rp5.500,00—Rp7.000,00/kg. Untuk memproduksi 5—6 ton gabah, biaya pupuk dapat mencapai Rp2.200.000,00—2.800.000,00. Untuk mencapai produksi pangan dengan biaya murah, pasti terjadi subsidi harga pupuk yang terus meningkat. Di sisi lain, konsumsi lahan terhadap pupuk juga meningkat sebagai akibat tekstur tanah yang telah rusak. Pada tahun 2008, subsidi pupuk mencapai Rp14,7 trilun (Kompas, 27 Juni 2008) dan pada tahun 2010 mencapai Rp24 triliun (Suara Pembaruan Daily). Kecenderungan harga gas yang terus meningkat dan kebutuhan pupuk murah bagi petani yang juga bertambah mengakibatkan meningkatnya pula beban subsidi pemerintah untuk penyediaan pupuk.

Pada Tabel 2 dapat dicermati bahwa untuk pencapaian target produksi padi nasional dari tahun ke tahun, baik luas panen, kapasitas produksi, dan produktivitas, tidak ada kenaikan yang bermakna. Namun, jika dilihat dari konsumsi pupuk, menunjukkan kenaikan yang sangat tinggi. Gambaran pada musim tanam tahun 2009 dan 2010,  untuk meningkatkan produktivitas sekitar 0,89%, kebutuhan pupuk meningkat sekitar 50%. Sementara pada musim tanam 2010, untuk meningkatkan produktivitas 0,24%, diperlukan asupan pupuk yang meningkat hampir 100%. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa untuk produksi padi lahan sawah sudah sangat tergantung pada pupuk. Hal ini karena lahan sawah sebagai medium tanam sudah kehilangan daya dukungnya untuk menyediakan hara tanah yang dibutuhkan tanaman. Indikator lain adalah gambaran rasio asupan pupuk dan produksi beras seperti pada Tabel 3.

Baca Juga:  Kotoran Hewan Jadi Bahan Pembuat Kertas di Masa Mendatang

Pupuk adalah komoditas vital yang berkaitan erat dengan upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Pupuk menyumbang 20% dari keberhasilan peningkatan produksi pertanian. Berdasarkan kenyataan, lahan produksi pangan cenderung menyempit. Akan tetapi, kebutuhan pangan meningkat terus sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Untuk meningkatkan produktivitas lahan yang semakin menyempit, intervensi pupuk tampaknya merupakan satu hal yang tidak dapat dihindari.

Industri pupuk nasional merupakan industri andalan dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi pangan terutama beras. Namun, saat ini pemerintah dihadapkan pada berbagai kendala untuk memproduksi pupuk dengan harga yang terjangkau oleh petani. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya harga dan ketersediaan bahan bakuyang harus diimpor, yaitu gas alam (CH4) sebagai bahan baku urea. Gas merupakan unsur terbesar, yaitu mencapai 50—60% dari struktur biaya produksi urea. Kesulitan bahan baku gas dapat menyebabkan beberapa industri pupuk tidak beroperasi dengan baik.

Bahan baku gas merupakan komoditas utama bagi industri pupuk nusantara, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meskipun Indonesia memiliki banyak tambang gas, tetapi kontrak penambangan jangka panjang sudah menjadi milik perusahaan swasta asing. Dengan demikian, akan sulit bagi industri pupuk nasional untuk menyediakan pupuk dengan harga murah di dalam negeri tanpasubsidi dari pemerintah. Berdasarkan catatan Kemenperin, permintaan pupuk urea, termasuk NPK, diproyeksikan akan meningkat selama kurun waktu 2010—2025. Kebutuhan urea meningkat 28% dan NPK 1,5 kali lipat (Sucofindo News,18 Juni 2010).

Persoalan industri pupuk anorganik dalam negeri dalam bayangbayang kehancuran. Tidak saja terkendala oleh pasokan gas hingga tahun 2012, tetapi juga kondisi pabrik yang sudah tua dan memerlukan pembaruan peralatan. Upaya revitalisasi pabrik pupuk untuk meningatkan efisiensi yang direncanakan dimulai tahun 2010. Hal ini pun menemui kendala biaya sehingga belum ada kejelasan, meskipun menjadi prioritas pembangunan nasional.

Baca Juga:  Kotoran Hewan Jadi Bahan Pembuat Kertas di Masa Mendatang

 

Sumber: Buku Petunjuk Penggunaan Pupuk Organik

 

loading...
loading...