Dongkrak Produksi dengan Revitalisasi Tambak Udang Tradisional

Pertanianku — Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah gencar mengejar target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton pada 2024. Salah satu upaya mendukung program tersebut adalah melakukan revitalisasi tambak tradisional di daerah-daerah potensial. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb. Haeru Rahayu, menjelaskan, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, dinilai menjadi salah satu wilayah yang berpotensial.

revitalisasi tambak
foto: Pixabay

Tb. Haeru menjelaskan, tahun ini KKP bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk melakukan revitalisasi tambak udang tradisional. Melalui kesepakatan yang dijalin oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), KKP akan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan budidaya yang berkelanjutan, khususnya untuk lahan tambak udang yang direvitalisasi menjadi klaster tambak udang berkelanjutan.

“Pembangunan kawasan budidaya berkelanjutan akan dioptimalkan pada kawasan-kawasan yang memiliki potensi tinggi serta memiliki dukungan, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Karena dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan dapat mendorong sistem dan usaha perikanan budidaya yang berbasis komoditas unggulan,” terang Tb. Haeru seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

Tb. Haeru yakin, penggunaan teknologi intensif untuk budidaya dapat meningkatkan produktivitas tambak udang yang berada di berbagai daerah.

Tambak udang vaname berkelanjutan yang dibangun di Aceh Tamiang menjadi harapan baru untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. Sebagai informasi, tambak ini berdiri di atas lahan seluas 2,6 hektare dan terdiri atas 11 petak. Padat tebar yang digunakan adalah 80 ekor/m3. Target produksi di tambak ini sekitar 27 ton per siklus.

“Mudah-mudahan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan ini berhasil sehingga nanti kita akan kembangkan lebih luas dengan melibatkan pembudidaya lainnya,” tutur Tb. Haeru.

Hasil dari tambak tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik multiplier effect sehingga dapat membangkitkan ekonomi masyarakat di sekitar. Pasalnya, bila dilihat dari hasil kajian teknis, pembudidaya bisa mendapatkan sekitar lebih dari Rp10 juta setiap kali panen. Pendapatan tersebut tiga kali lebih banyak dari upah minimum provinsi (UMP) Aceh yang sekitar Rp3 juta.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, M. Tahang, menjelaskan, awalnya kawasan tersebut merupakan tambak tradisional. Tambak tersebut hanya menghasilkan udang sebanyak 250 kg per hektare selama dua siklus per tahun. Dengan adanya revitalisasi, produktivitas tambak tersebut dapat meningkat sebesar 12–15 ton per hektare per siklus.

“Kami akan selalu hadir di tengah-tengah pembudidaya. Dan sebagai UPT yang diberi mandat untuk memproduksi udang, BPBAP Ujung Batee telah mendistribusikan dukungan benih dengan sasaran pembudidaya kecil dan juga untuk pengembangan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan,” terang Tahang.