Dongkrak Produksi Jagung dengan Pola Tanam Zigzag


Pertanianku Pola tanam zigzag dengan bantuan pupuk fosfat alam terbukti mampu mendongkrak produksi jagung hingga 20 ton/hektare. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr.

Pola tanam zigzag
Foto: Pixabay

Dedi mengatakan, teknologi tanam zigzag membuat sinar matahari yang menyinari tajuk jagung tidak terhambat daun jagung yang saling menaungi bila ditanam lurus. “Efeknya laju fotosintesis optimal sehingga produksi hasil fotosintesis optimal,” katanya seperti dikutip Republika, Minggu (15/4/2018).

Pemberian batuan fosfat alam dalam hal ini dapat membantu memasok unsur hara P yang kurang tersedia di tanah masam Indonesia. Pasalnya, di Indonesia lebih dari dua pertiga tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah (kurang dari 2 persen) sehingga tanah tersebut ketersedian unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg rendah.

Oleh karena itu, pemberian batuan fosfat alam atau “rock phosphate” langsung di tanah masam sangat efektif dan efisien dibandingkan pupuk jenis SP-36 atau TSP. “Tidak perlu diolah di pabrik sehingga harga lebih murah,” ujarnya.

Badan Litbang Pertanian sendiri telah melakukan kerja sama penelitian jangka panjang dengan OCP SA Morocco, sebuah BUMN Pupuk dari Kerajaan Maroko yang memiliki Rock Phosphate hingga 75 persen deposit dunia. “Maroko berpotensi besar sebagai pemasok kebutuhan pupuk P di dunia,” ungkap Dedi.

Faktanya, aplikasi inovasi teknologi berupa kombinasi tanam zigzag dengan pupuk batuan fosfat alam di beberapa lahan ternyata membuat jagung dapat memberikan hasil produksi yang maksimal. Jagung dipanen dengan hasil 20 ton per ha atau setara 3 kali lipat hasil rata-rata petani.

“Biasa kami hanya panen 6—7 ton per ha,” kata Budiono, petani di Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut.

Baca Juga:  Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Sayuran di Musim Hujan

Menurut Dr. I Putu Wigena, peneliti Balai Penelitian Tanah Bogor, batuan fosfat alam menjadi larut saat diberikan pada lahan masam. Terjadi pelepasan P dari batuan fosfat secara cepat sehingga tanaman langsung dapat menyerap.

Menurut dia, batuan fosfat juga memiliki efek residu yang lama sehingga manfaatnya dapat bertahan 4—5 musim tanam hanya dengan sekali pemakaian, sebanyak 1 ton per hektare.

Demplot di Kebun Percobaan Balittanah di Taman Bogo, Lampung, menunjukkan rata-rata produktivitas jagung  10—11 ton/ha untuk 4—5 kali musim tanam. Penelitian juga menunjukkan bahwa efek residu sangat menghemat biaya pembuatan dan aplikasi pupuk fosfat (P). Dengan demikian, teknik di masa lalu berupa aplikasi pupuk P yang diasamkan di lahan kering masam menjadi percuma.

“Banyak P hilang akibat diserap Fe dan Al tanah sehingga ketersediaan P berkurang,” tutur Putu.