Dua Kali Indonesia Jadi Tuan Rumah Quarantine Regulators Meeting


Pertanianku — Badan Karantina Pertanian Indonesia, Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Quarantine Regulators Meeting (QRM) untuk yang ke-2 kalinya. Ini merupakan pertemuan ke-10 yang dilaksanakan dan diikuti oleh 22 negara di seluruh dunia.

Quarantine Regulators Meeting
Foto: Google Image

Hal ini menjadi bukti kepercayaan dan apresiasi negara-negara anggota QRM terhadap komitmen dan unjuk kerja Indonesia. Terutama, dalam mengembangkan kerja sama internasional di bidang perkarantinaan tumbuhan untuk membangun standar biosekuriti ekspor dan impor produk pertanian.

“Ini kehormatan besar dan saya sangat senang menyambut Anda semua dalam ‘The 10th Quarantine Regulators Meeting (QRM)’ yang kembali diselenggarakan setelah konferensi International Cargo Biosecurity Arrangement (ICCBA) Industrial Conference“, ujar Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Banun Harpini, seperti dikutip dari laman Kementerian Pertanian, Rabu (9/5/2018).

Pada kesempatan tersebut, Banun beserta pihaknya berbagi pengetahuan  dan pengalaman dalam harmonisasi tindakan phytosanitary. Diketahui, sasaran forum tersebut, yaitu untuk membangun format pengakuan standar, termasuk aplikasinya dalam percepatan penerapan trade facilitation agreement, serta selaras kebijakan penurunan dwelling time.

Dalam hal ini, penerapan tindakan phyosanitary menjadi bagian penting dari manajemen hama terpadu. Namun, tindakan phytosanitary lebih ke arah pencegahan pengenalan dan penyebaran hama eksotik, baik hama karantina maupun hama nonkarantina yang diatur.

Peran langkah-langkah phytosanitary semakin signifikan mengikuti serangkaian hama bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, selama beberapa tahun terakhir perdagangan dunia telah meningkat secara dramatis. Orang dan komoditas bergerak di seluruh dunia saat hama eksotis bisa ikut bersama mereka dan berpotensi menjadi masalah utama.

Pertemuan ini menjadi forum penting untuk membahas tantangan yang dihadapi oleh anggota negara QRM dalam fasilitasi perdagangan internasional terkait dengan harmonisasi fitosanitasi.

Baca Juga:  Indonesia Perlu Belajar dari Denmark Demi Bangun Pertanian Dalam Negeri

“Kami menghadapi tantangan besar dalam perdagangan global, perlu menciptakan akses pasar dari standar ALOP tinggi persyaratan phytosanitary negara lain, penyederhanaan dan langkah strategis phytosanitary, serta strategi untuk melindungi serbuan hama dan penyakit tumbuhan karantina,” ungkap Banun.

Dalam setiap QRM, negara tuan rumah diberikan kesempatan untuk memperkenalkan sistem perkarantinaan tumbuhan yang diselenggarakannya dan fasilitas perkarantinaan tumbuhan yang dimilikinya dalam kegiatan one-day field trip. Indonesia yang berperan dalam forum ini diwakili oleh Dr. Antarjo Dikin selaku ketua steering committe dari wakil 22 negara.