Dua Varietas Padi Khas Klaten Berhasil Mendapatkan PVT

Pertanianku — Dua varietas padi khas Klaten yang bernama Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk telah berhasil lulus uji BUSS, yakni uji untuk menilai kelayakan varietas dalam mendapatkan hak PVT dengan memenuhi unsur baru, unik, seragam, dan stabil. Kedua varietas tersebut mendapatkan hak perlindungan varietas tanaman (PVT) yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP).

varietas padi
foto: pixabay

“Kementan telah menerima permohonan hak PVT Pemerintah Kabupaten Klaten untuk varietas tanaman padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk. Setelah melalui sidang komisi PVT, kedua varietas itu dinyatakan lulus uji dan Pemkab Klaten mendapatkan hak PVT atas dua varietas tersebut,” tutur Kepala Pusat PVTPP Kementan, Erizal Jamal seperti dilansir dari laman pertanian.go.id.

Pada sidang komisi PVT yang digelar pada (24/02) lalu, Pemerintah Kabupaten Klaten menjadi pemerintah daerah pertama yang berhasil mendapatkan hak PVT.

“Inisiasi yang dilakukan oleh Pemkab Klaten ini luar biasa dan patut dicontoh pemda lainnya. Menteri Pertanian telah memberikan apresiasi khusus terhadap Pemkab Klaten yang telah melakukan riset dengan memanfaatkan varietas lokal Rojolele sehingga bisa menghasilkan varietas yang spesial dari segi rasa dan bisa bermanfaat secara ekonomi,” jelas Erizal.

Hak PVT yang sudah dikantongi oleh Pemkab Klaten membuatnya memiliki kendali secara eksklusif untuk mengembangkan kedua varietas padi tadi. Hak eksklusif ini diharapkan dapat bermanfaat secara ekonomi untuk petani lokal di Klaten.

Menurut hasil pemeriksaan PVT, baik varietas Srinar dan Srinuk, keduanya memiliki berbagai keunggulan genetika. Rojolele Srinar memiliki bulu permukaan dan daun kuat yang tahan terhadap serangan sama. Srinar memiliki umur panen 104 hari setelah tanam dan bisa ditanam sebanyak 3 kali dalam setahun.

Baca Juga:  Pedoman Rehabilitasi Tanaman Kopi

Adapun Srinuk memiliki umur panen 104 hari setelah tanam dengan kadar amilosa yang agak rendah, yakni 13,64 persen. Kadar amilosa yang rendah membuat Srinuk baik untuk kesehatan. Keunikan lainnya dari Srinuk adalah memiliki aroma wangi beras yang kuat.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang memberikan perlindungan terhadap varietas Srinuk dan Srinar.

“Kami bangga dapat mengawal riset dan memberdayakan varietas lokal menjadi varietas baru yang mendapatkan hak PVT. Srinar dan Srinuk kami harapkan menjadi tumpuan pendapatan petani serta menjadi ikon kebanggaan padi Klaten,” ungkap Sri.