Edamame Biomax, Varietas Edamame Unggul untuk Tingkatkan Gizi dan Ekspor

Pertanianku — Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) baru saja mengeluarkan varietas unggul baru (VUB) edamame, yakni Biomax 1 dan Biomax 2. Kedua varietas tersebut ditetapkan sebagai VUB sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 dan 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 pada 26 April 2021 tentang Tanda Daftar Varietas Tanaman Hortikultura Kedelai Sayur (edamame).

edamame biomax
foto: Pertanianku

Varietas edamame biomax 1 memiliki kelebihan berupa ukuran polong yang besar dan tingkat produktivitas tinggi. Bobot polong muda edamame biomax 1 mencapai 332,34—339,89 gram/100 polong dengan tingkat produktivitas polong muda mencapai 10,35—14,65 ton/hektare.

Sementara itu, biomax 2 memiliki polong muda dengan bobot 298,63—355,89 gram/100 polong dengan tingkat produktivitas polong muda yang mencapai 8,51—16,39 ton/hektare. Keunggulan biomax 2 memang terletak pada tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibanding biomax 1.

Peneliti Balitbangtan Dr. Asadi menjelaskan, jika edamame biomax 1 dan biomax 2 direbus akan menghasilkan rasa manis.

“Salah satu yang menentukan kulitas edamame itu kan bau langu ya, kedelai ini bau langunya hampir tidak ada,” tutur Asadi seperti dikutip dari laman litbang.pertanian.go.id.

Asadi menjelaskan bahwa saat ini Balitbangtan melalui BB Biogen sedang berupaya untuk memperbanyak benih di Cisarua Jawa Barat dan Jember Jawa Timur. Nantinya, hasil perbanyakan tersebut akan dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah, perusahaan swasta, dan penangkar benih yang berada di berbagai daerah.

Kepala BB Biogen Mastur, Ph.D. menyampaikan bahwa pengembangan edamame akan dilakukan melalui dua jalur. Jalur pertama merupakan public domain, yakni pengembangan dilakukan oleh petani kecil yang berada di wilayah Jabodetabek untuk memenuhi kebutuhan pemasaran domestik yang bertujuan memenuhi penguatan gizi rakyat, ritel, dan kuliner modern.

Pengembangan edamame jalur pertaama nantinya akan didukung oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di tiap provinsi.

Baca Juga:  Beras Ketan Pulut Mandoti, Beras Termahal di Indonesia

Sementara itu, jalur kedua ditempuh melalui jalur lisensi dan komersialisasi benih yang selanjutnya dikembangkan oleh perusahaan berorientasi ekspor.

“Diharapkan varietas ini dapat berkembang di beberapa provinsi seperti Jateng, Jabar, DIY, juga beberapa kota besar di Sumatera, Kalimatan, Sulawesi, dan Bali,” papar Mastur.

Mastur mengatakan bahwa saat ini benih kelas breeder seed atau label kuning sedang diperbanyak dan hasilnya akan didistribusikan ke BPTP dan mitra penangkar.

.