Ekonomi Biru Menjadi Titik Tolak Terobosan Perikanan Budidaya

Pertanianku — Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah mengusung ekonomi biru dalam program perikanan budidaya pada 2022. Ekonomi biru dilakukan melalui optimalisasi sumber daya perikanan budidaya secara produktif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

Ekonomi biru
foto: Pixabay

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb. Haeru Rahayu, menyampaikan, penerapan ekonomi biru dapat memberikan hasil yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Penyusunan RKA-K/L Pagu Alokasi Anggaran 2022 Satker Pusat, UPT, dan Dekonsentrasi Provinsi di Bandung.

“Penerapan ekonomi biru dalam perikanan budidaya melalui penerapan inovasi dan teknologi harus memperhitungkan keseimbangan antara dampak ekonomi dan dampak ekologi. Dengan demikian, dihasilkan produksi ikan yang optimal dan berdaya saing serta meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat yang efisien, juga yang ramah lingkungan,” papar Tb. Haeru seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

Tb. Haeru melanjutkan, salah satu komoditas perikanan budidaya yang perlu menerapkan ekonomi biru ialah udang. Udang merupakan salah satu komoditas utama ekspor yang memerlukan kebijakan budidaya untuk mendukung keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan ekologi.

“Dari sisi ekonomi, KKP telah menyiapkan strategi peningkatan produksi budidaya udang hingga mencapai 2 juta ton pada tahun 2024, di antaranya dengan skema konsep revitalisasi tambak tradisional seperti yang saat ini diterapkan di beberapa kabupaten meliputi Aceh Timur, Lampung Selatan, Sukamara, Buol, dan Cianjur,” terang Tb. Haeru.

Strategi berikutnya yang telah dicanangkan ialah skema konsep modeling tambak udang modern. Konsep ini tak hanya membuat produktivitas lebih tinggi, tetapi juga mengintegrasikan sektor hulu untuk ketersediaan benur dan pakan dengan sektor hilir untuk pascapanen dengan gudang beku, pabrik es, serta peralatan pengolahan.

KKP juga telah membangun model percontohan Kampung Budidaya melalui rehabilitasi kolam, mesin pakan mandiri, unit pakan mandiri skala medium, dan bantuan alat berat seperti excavator. Kampung Budidaya tersebut dikembangkan dengan basis komoditas unggulan dan komoditas kearifan lokal.

Baca Juga:  Sebelum Memilih Kolam Terpal, Pertimbangkan Hal Ini Terlebih Dahulu

Melalui rencana kerja dan kebijakan yang terukur, pada 2022 produksi perikanan budidaya diproyeksikan mencapai 20,54 juta ton yang meliputi 8,69 juta ton ikan dan 11,85 juta ton rumput laut. Sementara itu, untuk komoditas ikan hias ditargetkan mencapai 2,1 miliar ekor. Dari proyeksi tersebut, pendapatan rata-rata pembudidaya diharakan dapat meningkat hingga Rp3,55 juta per bulan.