Ekspor Subsektor Peternakan di 2018 Meningkat Tajam

Pertanianku Ekspor subsektor peternakan di 2018 meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), I Ketut Diarmita mengungkapkan, hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan daya saing dan mempermudah perizinan ekspor.

Ekspor subsektor peternakan
Foto: Pixabay

Pernyataan tersebut diungkapkan saat Rapat Koordinasi Teknis Nasional (Rakonteknas) pada Rabu (5/12) di Hotel Lombok Raya, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementan, volume ekspor subsektor peternakan pada 2018 sejak Januari hingga September sebesar 183.414 ton dengan nilai USD474.193.507. Dengan demikian, terhitung volume ekspor naik sebesar 52,99 persen.

Sementara nilai ekspor meningkat sebesar 194 persen, jika dibandingkan dengan volume dan nilai ekspor Januari—September 2017, yaitu sebesar 119.885 ton dan USD 161.171.933.

“Kita harapkan volume dan nilai ekspor subsektor peternakan di triwulan akhir tahun 2018 ini akan terus mengalami peningkatan,” ujar I Ketut di hadapan para peserta Rakonteknas yang terdiri dari seluruh Eselon 2 dan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen PKH, serta Kepala Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota yang menangani fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan se-Indonesia.

Berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Ditjen PKH, capaian ekspor peternakan dan kesehatan hewan pada 3,5 tahun terakhir (2015—2018 semester I) mencapai Rp32,13 triliun. Kontribusi ekspor terbesar pada kelompok obat hewan yang mencapai Rp21,58 triliun menembus ke 87 negara tujuan. Selain itu, ekspor babi ke Singapura sebesar Rp3,05 triliun.

Lalu, produk susu dan olahannya juga menghasilkan sebesar Rp2,99 triliun menembus pasar di 31 negara. Kelompok pakan ternak asal tumbuhan menyumbang Rp3,34 triliun masuk ke 14 negara.

Beberapa produk lain seperti produk hewan nonpangan, telur ayam tetas, daging dan produk olahannya, pakan ternak, kambing/domba, day old chicken (DOC), serta semen beku juga menyumbang devisa cukup besar tahun ini.

Baca Juga:  Harga Terus Merosot, Petani Indramayu Kesulitan Menjual Gabah

“Langkah dan kebijakan Kementan dalam mewujudkan visi Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia pada 2045 terus diupayakan bersama para pemangku kepentingan,” ucap I Ketut.

Loading...