Enam Ton Benih Jagung Berbahaya Dimusnahkan

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) mendapati benih jagung berbahaya yang diimpor dari India oleh PT Metahelix Lifescience dan benih padi yang dibawa dari Jepang. Pada Sabtu (30/3) lalu, Kementan menggelar pemusnahan benih induk jagung hibrida dan padi yang mengandung hama penyakit bakteri pseudomonas syringae.

benih jagung berbahaya
Foto: Pixabay

Berlokasi di Balai Besar Karantina Soekarno Hatta Kementerian Pertanian, Tangerang, total enam ton benih jagung dan dua kilogram benih padi dimusnahkan. Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Ari Jamil mengatakan, benih padi dari Jepang tersebut selain mengandung organisme perusak juga terbukti tidak memiliki syarat administratif yang lengkap.

“Kalau benih jagung ini sudah memiliki syarat administrasi dan dokumen perizinan yang lengkap,” ujar Ari seperti dikutip dari Republika, Minggu (31/3).

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto mengatakan benih jagung dan padi tersebut telah terbukti mengandung Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) golongan A1. Dia menjelaskan, OPTK golongan A1 sendiri merupakan golongan OPTK yang belum terdapat di Indonesia.

“Nah, kalau enam ton bibit induk ditanam, lalu hasilnya katakan dua atau tiga ton per hektare, dia akan berpengaruh sangat besar,” ujar Gatot.

Perlu diketahui bahwa benih jagung dan padi tersebut merupakan benih golongan F1 atau hibrida yang merupakan benih turunan pertama dan dalam penggunaannya digunakan sebagai benih  induk untuk ditanam kembali. Untuk itu, Gatot menyebut, pemusnahan ini merupakan satu-satunya jalan sebab pengendaliannya akan sulit.

Di Indonesia, kata dia, organisme berbahaya ini belum ada. Upaya pengendaliannya pun belum ada. Ia menambahkan apabila benih jagung dan padi tersebut berhasil lolos pengawasan, akan menyebabkan kerugian yang besar. Namun sayang, ia tak merinci perkiraan jumlah kerugiannya.

Baca Juga:  KKP Jelaskan soal Turunnya Ekspor Produk Perikanan

“Yang jelas ini kan termasuk benih sebar F1 dan jumlahnya sangat banyak. Jadi, kerugiannya akan besar,” jelasnya.

Sementara, Rori selaku perwakilan dari PT Metahelix Lifescience menyatakan, pihaknya telah melakukan syarat administrasi sesuai prosedur dalam mengimpor benih jagung tersebut. Menurutnya benih yang mengandung OPTK itu dapat lolos dari India karena dalam pemeriksaan hanya menggunakan metode sampling sehingga tidak semua terdeteksi.

“Administrasi sudah kami selesaikan semua termasuk saat proses impor di India. Dari kami mengapresiasi upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dan Balai Besar Karantina,” katanya.

Loading...