Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Inseminasi Buatan

Pertanianku — Di luar dari faktor utama yang menjadi prioritas dalam proses inseminasi buatan (IB), Anda juga perlu memerhatikan beberapa faktor pendukung lainnya yang dapat memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan. Berikut ini beberapa faktor pendukung yang dapat memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan.

inseminasi buatan
foto: Pertanianku

Kualitas semen beku

Kualitas spermatozoa yang layak untuk inseminasi buatan berdasarkan SNI spermatozoa beku adalah motilitas lebih dari 40 persen setelah thawing. Teknik thawing yang benar dilakukan saat ternak sudah siap diinseminasi. Teknik ini dapat menyebabkan kematian spermatozoa. Tingkat motilitas sangat dipengaruhi oleh kualitas spermatozoa sebelum dan sesudah pembekuan, penyimpanan, dan metode atau teknik thawing spermatozoa beku.

Kualitas semen beku dapat dipercayakan kepada Balai Inseminasi Buatan (BIB) Pusat dan Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) dalam penerapan sistem pemeliharaan ternak, khususnya penyediaan pejantan-pejantan unggul.

Ternak betina dan deteksi birahi

Ternak yang digunakan sebagai akseptor IB harus dalam umur produktif, sehat, dan memiliki siklus estrus yang normal. Kesalahan manajemen dapat menyebabkan gangguan reproduksi. Berdasarkan pengalaman, banyak betina yang mengalami gangguan reproduksi setelah ternak melahirkan. Kondisi tersebut kerap disebabkan oleh penanganan yang kurang tepat saat melahirkan dan ketidakseimbangan pakan yang diberikan.

Inseminator

Inseminator harus berpengalaman untuk mengecek kembali kondisi betina yang estrus berdasarkan laporan peteranak sebelum melakukan persiapan semen. Hal ini berguna untuk memastikan betina agar benar-benar dalam kondisi estrus. Setelah memastikan kondisi betina, inseminator baru menyiapkan semen yang akan digunakan. Semen beku yang sudah di-thawing secepat mungkin harus dideposisikan pada organ reproduksi betina.

Peternak

Peternak adalah orang yang berinteraksi langsung dengan ternak. Peternak yang baik akan mendeteksi ternak-ternaknya secara teratur. Umumnya, ternak memiliki siklus birahi yang berbeda-beda. Misalnya, sapi memiliki siklus estrus setiap 20—21 hari sehingga peternak perlu melakukan pemeriksaan secara rutin berdasarkan siklus tersebut.

Baca Juga:  Perawatan Litter Kandang Ayam, Bagian Penting yang Tidak Boleh Terlewat

Peternak yang tidak melakukan pemeriksaan secara rutin pasti tidak akan memberikan laporan dan informasi yang tepat pada inseminator. Kondisi ini tentu saja dapat menyebabkan kegagalan dalam kebuntingan.