Fase-Fase Kurma

Pertanianku — Kurma cukup populer di Indonesia. Hampir semua umat Islam menyukai buah manis dari Timur Tengah ini. Biasanya, kurma banyak dijual saat Ramadan, baik di pasar tradisional maupun pasar modern (supermaket/minimarket). Kurma kering dijual dengan berbagai harga dan jenis. Saat ini, kurma tidak hanya dikonsumsi ketika Ramadan, di luar bulan puasa masyarakat Indonesia mulai mengonsumsinya.

Fase-Fase Kurma

Pohon kurma (Phoenix dactylifera) memiliki ciri fisik yang sama dengan kelapa sawit. Meskipun ciri fisiknya hampir sama, kurma dan sawit memiliki beberapa perbedaan. Pohon kurma mampu beradaptasi dengan baik pada tanah yang miskin unsur haranya. Hal ini berbanding terbalik dengan kelapa sawit yang membutuhkan banyak air. Selain itu, usia produktif kurma bisa mencapai 60 tahun, sedangkan kelapa sawit hanya sampai 25 tahun.

Loading...

Masyarakat Indonesia umumnya mengenal kurma dalam bentuk buah kering. Padahal, kurma segar bisa dikonsumsi layaknya buah lain. Kurma dalam kondisi segar biasa disebut khalal, yang juga salah satu fase (siklus perubahan) yang dialami kurma. Selain khalal, kurma juga mengalami beberapa fase berikut.

  1. Fase hababouk

Fase hababouk (habbabok/hababauk) dimulai setelah terjadinya proses penyerbukan. Ukurannya sebesar pentol korek api. Dari berbagai sumber data, rentang waktu fase hababouk adalah 30—45 hari. Meskipun demikian, rentang waktu tersebut bergantung pada varietas, lokasi, dan kondisi iklim kurma tumbuh.

  1. Fase kimri

Tahap perkembangan buah pada fase kimri ini cukup sulit dan panjang. Buah kurma cenderung berwarna hijau dan berukuran kecil. Rentang waktu terjadinya fase kimri sekitar 60—98 hari. Fase ini sering juga disebut khimri atau jimri. Tumbuh kembang kurma pada fase ini juga bergantung varietas, cuaca, dan lingkungan tempat kurma ditanam.

  1. Fase khalal
Baca Juga:  Kelebihan Jambu Air Madu Deli, Jambu Semanis Madu Tidak Berbiji

Buah kurma yang memasuki fase khalal bisa dikatakan sudah masak. Meski dianggap sudah matang dan layak konsumsi, tekstur daging buahnya masih keras. Ada perubahan warna yang cukup signifikan, dari hijau muda ke kuning hijauan, kuning, merah muda, merah, ataupun ungu. Perubahan warna ini bergantung pada varietas kurma yang ditanam.

Pada fase khalal juga terjadi perubahan warna biji kurma, dari putih menjadi cokelat. Waktu yang diperlukan sekitar 21—30 hari. Ada beberapa varietas kurma yang memasuki fase khalal sudah layak jual sebagai buah segar seperti Barhee, Khalas, dan jenis lainnya.

  1. Fase rutab

Fase rutab merupakan fase perubahan warna matang kurma. Perubahan tersebut memunculkan kombinasi warna cokelat dan kuning. Perbedaan varietas, cuaca, dan kondisi lingkungan kurma tumbuh menyebabkan perubahan warna ini juga berbeda-beda. Banyak perkebunan komersial sudah memanen buah pada fase ini, baik untuk dijual dalam bentuk buah segar maupun untuk dikeringkan (tamar). Ini karena harga jual kurma paling bagus ada pada fase yang berlangsung selama 10—25 hari.

  1. Fase tamar

Buah sudah dinyatakan matang sempurna pada fase tamar. Terjadi perubahan warna yang cukup drastis dari kuning ke cokelat kusam atau hampir hitam. Kulit buah kurma cenderung berkerut dan semakin gelap. Proses fase tamar berlangsung lebih kurang 30 hari. Meskipun begitu, dalam 1 tandan kurma pematangannya berbeda-beda.

Dari kelima fase kurma ini, terdapat tiga fase terakhir yang mengungkap fakta bahwa kurma dapat dikonsumsi, baik sebagai buah segar maupun diolah kembali. Ini bergantung pada tujuan akhir dari pemanenan kurma. Misalnya, perkebunan skala komersial sudah siap memanen kurma pada fase khalal dan rutab. Ini bertujuan untuk mendapatkan kurma premium dengan harga mahal.

Baca Juga:  Khasiat Jeruk Bali di Balik Rasanya yang Asam dan Pahit
Loading...
Loading...