Gelatin dari Limbah Perikanan

Pertanianku— Limbah merupakan hasil sampingan dari pengolahan suatu produk. Ada limbah yang benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan, ada juga limbah yang masih diolah untuk dijadikan produk bernilai ekonomi. Limbah perikanan yang dihasilkan dari proses pengolahan produk perikanan masih bisa dimanfaatkan. Salah satu produk yang bisa dihasilkan dari limbah perikanan adalah gelatin.

limbah perikanan
foto: pixabay

Gelatin atau miracle food masih sulit untuk digantikan dalam industri makanan dan farmasi. Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi negara pengimpor gelatin dari Amerika. Padahal, gelatin yang berasal dari Amerika sebagian besar terbuat dari babi, hanya sekitar 16,7 persen yang terbuat dari organ dalam sapi. Selain itu, gelatin sapi harganya jauh lebih mahal.

Pembuatan gelatin dari limbah perikanan menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan persediaan gelatin di Indonesia. Sekaligus, mengatasi permasalahan limbah perikanan yang bisa mencemari lingkungan.

Loading...

Produksi gelatin dari limbah kulit ikan tuna sudah dilakukan sejak 2003. Saat ini produk tersebut digunakan sebagai bahan baku untuk industri farmasi. Penggunaan limbah ikan sebagai bahan baku pembuatan gelatin dinilai sangat bagus untuk mengefisiensikan biaya produksi. Pasalnya, harga limbah perikanan pasti tidak mahal seperti babi atau sapi. Selain itu, ketersediaan kulit ikan tuna dan cakalang di Indonesia dapat mencapai 105,987 ton per tahun.

Bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat gelatin sangat mudah dan murah. Anda hanya perlu menggunakan baskom, kapur, dan ezim papain.

Kulit ikan yang sudah dikumpulkan, kemudian dibersihkan dan dimasukkan ke baskom yang sudah berisi kapur dan enzim papain atau ekstrak pepaya. Selanjutnya, cuci kulit dengan air mengalir dan rendam dengan larutan asam sitrat atau citrun selama 12 jam atau hingga kulit mengembang.

Baca Juga:  Cara Mengolah Rumen Sapi Menjadi Starter Pupuk dan Pakan Ternak

Kulit yang sudah mengembang dimasukkan ke gelas beaker berisi air yang bersuhu 55°C. Volume air tersebut sebanyak 2 kali dari berat kulit. Selanjutnya, ekstrasi kulit dengan cara memasukkan gelas beaker ke panci berisi air. Proses ekstrasi ini berlangsung selama 2 jam. Setelah esktrasi selesai, pisahkan cairan dari padatan dengan proses penyaringan.

Cairan hasil ekstrasi tersebut dituangkan ke dalam loyang dan dikeringkan dengan cara dioven atau dijemur.

Loading...
Loading...