Gilir Giling, Strategi untuk Antisipasi Kekeringan Sawah

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pemantauan kawasan sawah di beberapa wilayah di Kebumen sebagai langkah antisipasi kekeringan sawah. Adapun solusi yang sedang diupayakan meliputi sistem gilir giring setiap enam hari sekali dan mendapat giliran sebanyak satu hari untuk pengairan.

antisipasi kekeringan sawah
Foto: Pixabay

Direktur Jenderal Prasarana Sarana Pertanian Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, selain upaya tersebut, Kementan juga melakukan rehabilitasi saluran irigasi tersier sejauh 300 meter di wilayah sawah yang mengalami kekeringan. Adapun wilayah sawah di Kebumen yang terancam kekeringan antara lain di Kecamatan Bulus Pesantren dan Kecamatan Petanahan.

Berdasarkan catatan Kementan, Kecamatan Bulus Pesantren memiliki luas tanaman padi sawah (standing crop) yang terancam kekeringan pada Musim Tanam kedua (MT II) sebesar 213 hektare. Wilayah terancam tersebut meliputi Desa Indrosari 6 hektare, Desa Sangubanyu 30 hektare, Desa Ambalkumolo 9 hektare, Desa Bocor 14 hektare, Desa Waluyo 4 hektare, dan Desa Sidomoro 160 hektare.

Loading...

“Saat ini umur tanaman padi di Kecamatan Bulus Pesantren ada 30 HST (hari setelah tanam), kami melakukan pantauan pada Desa Sidomoro, Desa Tanjungsari, dan Desa Bocor,” kata Edhy melalui keterangan tertulis, Selasa (18/6).

Dia menyatakan, berdasarkan pantauan di Desa Sidomoro, Gapoktan Mitra Tani mengungkapkan, desa tersebut merupakan desa paling luas standing crop yang terancam kekeringan.

Adapun penyebab kekekeringan yang melanda Kecamatan Bulus Pesantren, yakni karena pengurangan suplai air dari Waduk Wadaslintang (intake Kedungsamak) ke jaringan irigasi. Kekeringan juga terjadi karena musim kemarau yang maju.

“Bulan April curah hujan rendah dan Mei sudah tidak ada hujan. Sementara, awal masa tanam jadi mengalami kemunduran,” kata dia.

Dari catatan Kementan, pada tahun anggaran 2018, Kabupaten Kebumen mendapatkan alokasi pompa air sebanyak 15 unit. Edhy menyebut, keseluruhan pompa tersebut sudah terdistribusi secara merata pada daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Baca Juga:  Kutu Loncat Pembawa Petaka

Pihaknya berjanji akan mengupayakan pompa dengan kapasitas yang lebih besar, yakni 6 inci agar dapat mengalirkan air dari saluran irigasi di Desa Tanjungsari ke saluran irigasi tersier yang menuju Desa Sidomoro guna menambah ketersediaan air.

Perihal kekeringan di Desa Bocor, Edhy memaparkan, dengan standing crop yang mengalami kekeringan mencapai 14 hektare disebabkan oleh suplai air dari saluran irigasi Wadaslintang tidak bisa mencapai Desa Bocor. Namun saat ini, untuk memenuhi kebutuhan air irigasi pihaknya memanfaatkan air permukaan Sungai Kedungbener dengan kapasitas pompa 213 ubin mesin.

Sementara di Kecamatan Petanahan, luas standing crop yang mengalami kekeringan mencapai 20 hektare pada umur tanaman 12 HST. Edhy menuturkan, kejadian kekeringan ini baru pertama kali terjadi di Kecamatan Petanahan yang terkenal paling berpotensi dan subur. Dia menyebut, pada Februari 2019 pada daerah dan blok yang terkena kekeringan tersebut terkena kebanjiran.

“Kekeringan tanaman padi pada Kecamatan Petanahan ini disebabkan oleh kondisi iklim di mana musim kemarau maju, masa tanam mundur,” kata dia.

Loading...
Loading...