Gula Kelapa Rendah Indeks Glikemik


Pertanianku — Peneliti mengatakan, gula kelapa lebih sehat dibandingkan dengan gula lainnya. Seperti kita ketahui, kebutuhan gula terus meningkat setiap tahunnya. Karena itu, pemerintah terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan gula nasional.

gula kelapa
Foto: Shutterstock

Tanaman palma, seperti lontar, gewang, aren, dan kelapa merupakan sumber gula alternatif. Gula palma diolah dari nira segar yang disadap petani pagi dan sore. Nira segar rasanya manis dan warnanya bening.

Dari nira segar dapat dihasilkan gula cetak, gula Kristal, dan gula cair yang menjadi bahan baku utama untuk industri makanan. Di antara gula palma tersebut, gula kelapa memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan yang lainya. Rasanya sangat khas dan memiliki citarasa spesial.

Gula kelapa memiliki nilai indeks glikemik (IG) rendah, yakni hanya 35. Sementara, gula komersial IG-nya mencapai 60.

Indeks glikemik (IG) merupakan indeks atau tingkatan pangan menurut efeknya dalam meningkatkan kadar gula. Pangan dengan IG rendah dapat memperlambat peningkatan kadar gula. Hal itu karena proses penyerapan glukosa ke dalam darah relatif rendah, perlahan, dan bertahap sehingga kadar gula darah dapat terkendali dengan baik.

Oleh karena itu, gula kelapa sangat baik dan disarankan untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes. Ini juga menjadi alasan utama mengapa gula kelapa banyak diminati oleh konsumen di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.

Peneliti Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma), Doktor Steivie Kuraow mengatakan, umumnya tanaman yang disadap petani adalah tipe kelapa dalam yang batangnya tinggi. Akibatnya, banyak penyadap yang jatuh dari pohon.

Kondisi ini tidak diiringi dengan penambahan tenaga penyadap karena tenaga muda tidak tertarik untuk bekerja sebagai penyadap. Tentunya ini menjadi masalah yang sangat serius pada beberapa daerah sentra gula kelapa.

Baca Juga:  Seperti Ini Siklus Nitrogen pada Tanah

Namun demikian, Balitpalma, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian menemukan solusi untuk permasalahan ini, yaitu melalui penyediaan kelapa tipe genjah. Kelapa genjah memiliki batang pendek dan tergolong lambat untuk bertambah tinggi. Bahkan, tanaman yang sudah berumur 30 tahun saja tinggi batangnya hanya mencapai 10 meter.

Balit Palma memiliki koleksi kelapa genjah yang sangat potensial sebagai sumber nira. Hingga kini, ada empat varietas kelapa genjah unggul yang telah dilepas, yaitu kelapa Genjah Kuning Nias (GKN), kelapa Genjah Kuning Bali (GKB), kelapa Genjah Raja (GRA) dan kelapa Genjah Salak (GSK).