Gulma yang Berbahaya untuk Tanaman Tebu

Pertanianku — Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman utama harus segera disiangi karena dapat menjadi pesaing yang merebut unsur hara, air, cahaya, dan lain-lain. Selain menjadi pesaing, ada beberapa gulma yang berbahaya untuk tanaman utamanya. Pada perkebunan tebu, kelompok gulma tanaman tebu terbagi menjadi tiga golongan, yakni ganas, agak ganas, dan tidak ganas.

gulma tanaman tebu
foto: Pixabay

Melansir dari ditjenbun.pertanian.go.id, gulma ganas adalah Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Echinochloa colonum, Imperata cylindrica, Rottboelia cocchincinensis, Portulaca oleraca, dan Amaranthus spinosus. Untuk kelompok yang agak ganas adalah Ageratum conyzoides, Brachiara mutica, Cyperus iria, Dactyloctenium aegyptium, Eclipta prostate, Fymbristilis milliaceae, Lantana camara, Mimosa invisa, dan Panicum repens. Terakhir, golongan yang tidak ganas adalah Cleome aspera, Ageratum conyzoides, Borreriaa alata, dan Ruellia tuberosa.

Kehadiran gulma pada lahan pertanaman tebu dapat menyebabkan rendahnya produktivitas tebu sehingga menimbulkan kerugian hasil dan pendapatan. Tanaman tebu yang tidak diganggu oleh gulma pada umur 12 minggu setelah tanam produktivitasnya bisa mencapai 127 ton per hektare. Sementara itu, tanaman yang diganggu oleh gulma produktivitasnya hanya 93 ton per hektare.

Kerugian akibat gulma bisa dicegah dengan cara pengendalian yang tepat. Gulma tidak perlu dikendalikan hingga benar-benar bersih, pasalnya penutupan gulma sebesar 15 persen masih bisa ditoleransi. Pembersihan gulma secara total justru dinilai kurang efektif karena gulma penghasil nektar dapat berfungsi sebagai inang parasitoid dan predator hama tanaman tebu.

Pengendalian gulma dilakukan hanya untuk menurunkan populasinya hingga berada di bawah ambang yang tidak merugikan. Pengendalian dilakukan saat tanaman berumur 3–4 bulan dengan berbagai cara. Pertama, pengolahan tanah hingga gembur dan kedalaman minimal 50 cm.

Cara selanjutnya adalah mengatur penentuan tata letak kebun dan pengaturan drainase, pengaturan jarak tanam, serta menanam varietas yang tepat.

Baca Juga:  Strategi Kementan Tingkatkan Produksi Gula Nasional

Pengendalian juga dilakukan secara manual dengan cara penyiangan dengan alat-alat sederhana hingga modern. Penyiangan sebaiknya dilakukan sebelum tanam, sebelum pemupukan, dan sebelum penyulaman.

Cara pengendalian lainnya adalah secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. Namun, penggunaan herbisida harus memperhatikan beberapa hal agar penggunaannya tidak menimbulkan dampak buruk.