Guna Tingkatkan Produksi, Petani Bawang di Lombok Timur Melakukan Terobosan


Pertanianku – Pemerintah di Kabupaten Lombok Timur melakukan terobosan guna mendukung program swasembada bawang merah tanah air. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Timur Zaini mengatakan, Lombok Timur memiliki potensi yang cukup besar untuk penanaman bawang merah hingga mencapai 1.400—1.500 hektare per tahun.

guna-tingkatkan-produksi-petani-bawang-di-lombok-timur-melakukan-terobosan

Produktivitas bawang merah di Lombok Timur menunjukkan angka yang cukup luar biasa, yakni mencapai 13 ton bawang merah per hektare. Zaini memaparkan terdapat sejumlah kendala pada program ini seperti fluktuasi harga yang terkadang sangat tajam, dan serangan hama penyakit yang masih tinggi.

“Namun, produktivitas kita juga masih terbilang rendah kalau untuk penggunaan teknologi. Petani kita masih belum seperti apa yang kita harapkan,” ujar Zaini, dalam Festival Bawang Merah 2016 di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuan Haji, Lotim, baru-baru ini, seperti melansir Republika (17/11).

Pemkab Lombok Timur mencoba menggandeng produsen benih sayuran hibrida tropis ‘Cap Panah Merah’ PT East West Seed Indonesia untuk menyelesaikan sejumlah persoalan tersebut. Direktur Ewindo Afrizal Gindow mengatakan, pihaknya memberikan terobosan baru dengan mengenalkan benih bawang merah varietas sanren F1.

Bawang merah varietas baru ini merupakan hasil penemuan dari peneliti Ewindo di Indonesia. “Bawang merah sanren F1 memiliki keunggulan mampu berproduksi dengan baik ketika ditanam pada musim kering maupun hujan,” ucap Afrizal.

Ia menegaskan, penemuan varietas ini merupakan solusi terhadap persoalan yang dihadapi petani bawang merah di Indonesia. Menurutnya, bibit bawang merah yang ada selama ini sulit untuk dibudidayakan pada musim hujan dengan curah hujan tinggi. Umumnya pada musim tersebut tanaman bawang akan mudah busuk dan rusak akibat serangan penyakit.

Salah satu penyakit yang seringkali menyerang tanaman bawang merah pada musim penghujan adalah busuk daun. Serangan penyakit ini dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerusakan 50% tanaman dan bahkan dapat mencapai seratus persen. Potensi gagal panen dan kerugian yang dihadapi petani pun menjadi sangat tinggi.

Baca Juga:  Uniknya Mangga Alpukat dari Pasuruan

Selain tahan terhadap penyakit, ia katakan, bawang merah sanren F1 juga memiliki bentuk, warna, dan aroma yang sesuai dengan selera pasar dan konsumen.

Selain itu, untuk area tanam seluas satu hektare, benih atau biji yang dibutuhkan hanya sekitar 3 kilogram dengan hasil produksi yang mencapai 28 ton per hektare. Ini lebih tinggi dibanding rata-rata hasil panen bawang merah nasional sekitar 8—12 ton per hektare.

Ia melanjutkan, sanren F1 juga dapat beradaptasi dengan baik ketika ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 50 hingga 100 mdpl.

“Karena berasal dari biji, biaya budi daya bawang merah sanren F1 juga lebih rendah,” papar Afrizal.

Ia mencontohkan, jika menggunakan sistem konvensional setiap hektare lahan memerlukan sekitar 1,5 ton umbi dengan biaya sekitar Rp45 juta, sedangkan jika menggunakan metode ‘pindah tanam’ ini hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya sekitar Rp12,5 juta.

Cara baru budidaya bawang merah dengan menggunakan biji juga memiliki keunggulan dengan lebih sedikit terserang penyakit karena benih tidak membawa bulb borne disease seperti virus dan jamur. Untuk pemakaian pupuk juga tergolong lebih efisien, yakni hanya dengan menggunakan dosis pupuk setengah dari kebutuhan pupuk dengan metode penanaman konvensional, produksi bawang merah tetap tinggi.

Salah seorang petani lokal, Usman berharap, pemerintah bisa memberikan insentif demi peningkatan produktivitas bawang merah di Lotim seperti obat-obatan untuk penangkal serangan hama.

“Jujur harganya mahal sekali. Mungkin ada bantuan obat di samping bibit, kalau pupuk kita dapat bantuan pupuk organik dari dinas pertanian dan peternakan,” ucap Usman.

loading...
loading...