Hadapi El Nino dan La Nina, Manfaatkan Data BMKG!


Pertanianku  ̶  Para petani diharapkan bisa memanfaatkan data BMKG guna menghindari merosotnya hasil pertanian akibat cuaca saat ini yang cenderung tak menentu. Pasalnya, masa tanam mengalami gangguan besar disebabkan El Nino yang belum berakhir dan La Nina yang tengah mengancam bumi pertiwi.

Keringkan Kolam Terlebih Dahulu Untuk Persiapan Kolam Nila

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus Subagyo, El Nino mengakibatkan musim hujan datang terlambat. Usai menghadapi El Nino yang diprediksi usai pada April-Mei, para petani harus bersiaga dengan kedatangan La Nina pada Juli-September.

“Pengaruh El Nino masih sangat kuat hingga Januari ini. Hingga kini, baru 89,8% zona yang memasuki musim penghujan. Musim hujan datang terlambat. Namun di musim kemarau nanti, La Nina akan membuat daerah di selatan khatulistiwa tetap basah,” ujar Yunus, dikutip dari Republika Online.

Oleh karena itu, menurut Yunus, guna menghadapi El Nino dan La Nina para petani diimbau untuk memanfaatkan data BMKG. Ia berharap instansi di daerah dapat memanfaatkan data BMKG untuk menentukan masa tanam yang tepat. “Petani yang tidak memanfaatkan data BMKG akan mengalami kerugian,” tuturnya.

Guru Besar Agrometeorologi dan Geofisika Institut Pertanian Bogor, Yonny Koesmaryono, menuturkan bahwa BMKG semestinya bekerjasama dengan Kementerian Pertanian untuk menentukan kalender tanam dan kalender panen bagi petani, khususnya padi. Kalender ini dibuat berdasarkan data BMKG berkaitan dengan cuaca mutakhir untuk mengantisipasi anjloknya komoditas pertanian. “Peringatan ini harus segera dilakukan untuk meminimalisasi gagal panen bagi petani,” kata Yonny dalam okezone.com.

Kendati demikian, pihak Kementrian Pertanian tetap optimis pada hasil pertanian meski dua badai El Nino dan La Nina sangat menghantui petani. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman bahkan menargetkan produksi komoditas strategis yang cukup tinggi. Untuk padi misalnya, produksinya ditargetkan sebanyak 75,13 juta ton pada tahun 2016. Padahal di tahun 2015, Indonesia hanya mampu memproduksi 42,16 juta ton beras (bisnis.com).

Baca Juga:  Yuk, Ikuti Langkah-langkah Membuat Bawang Hitam

Target produksi tersebut, menurut Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, telah mempertimbangkan dampak El Nino yang masih berlangsung dan La Nina yang segera datang. Meski saat ini hujan masih belum merata di Indonesia, ia memprediksi akan banyak panen di bulan Februari. “Bulan Februari ini akan ada panen satu juta hektare di banyak daerah, seperti Sumut, Aceh, juga Sulawesi,” ujarnya sebagaimana dilansir bisnis.com.

loading...
loading...