Hama Tanaman Kacang Tanah yang Meresahkan

Pertanianku — Serangan hama dapat memengaruhi produktivitas tanaman hingga menyebabkan kerugian karena hasil produksi menurun, bahkan puso, apabila serangan hama tidak segera dikendalikan. Tanaman kacang tanah termasuk tanaman yang rentan diserang hama. Hama perlu dikendalikan dengan cara yang tepat. Langkah pengendalian yang perlu Anda lakukan adalah mengenali jenis-jenis hama tanaman kacang tanah.

hama tanaman kacang tanah
foto: Pertanianku

Wereng Empoasca spp

Hama wereng ini juga dikenal dengan nama sikada. Wereng menyerang tanaman pada musim kemarau dan bisa menyebabkan kehilangan produksi mencapai 40 persen. Serangan sikada yang terjadi pada tanaman muda dapat menyebabkan tanaman menjadi layu, sedangkan serangan pada tanaman tua menyebabkan ujung daun muda akan berwarna kuning membentuk huruf “V”. Biasanya, tanaman yang terserang hama ini akan tampak berwarna lebih kuning.

Hama wereng dapat dikendalikan dengan penanaman serentak yang dilakukan tidak lebih dari 10 hari, memajukan waktu tanam, melakukan tumpang sari dengan jagung, dan menyemprotkan insektisida.

Thrips

Ukuran thrips sangat kecil hanya 2 mm dan berwarna kuning krem. Hama ini dapat menyerang tanaman kacang tanah sepanjang tahun, tetapi puncak jumlah populasinya terjadi pada musim panas. Nimfa dan serangga dewasa menyerang tanaman dengan mengisap cairan yang ada di daun sehingga menyebabkan daun nekrotik. Serangan yang berat dapat menyebabkan daun menjadi keriting.

Hama thrips bisa dikendalikan dengan penanaman serempak, memajukan waktu tanam, tumpang sari dengan jagung, dan menyemprotkan insektisida aktif.

Ulat grayak

Ulat grayak bisa menyerang kacang tanah, kedelai, ubi jalar, bawang, dan tembakau. Ulat grayak aktif pada malam hari. Ulat dewasa memakan daun, polong muda, dan tulang daun muda. Sementara itu, pada daun tua, ulat hanya memakan daun dan menyisakan tulang-tulang daunnya.

Baca Juga:  Tips Memilih Pupuk Organik: Jangan Lihat Mereknya!

Hama ulat grayak dapat dikendalikan dengan tanaman serempak dan melakukan pemantauan secara rutin. Anda juga bisa menyemprotkan insektisida berbahan aktif permethrin, dekametrin, sihalotrin, dan lain-lain apabila populasi ulat grayak sudah mencapai ambang batas, yakni dua ekor per 8 tanaman.

Kutu aphis

Kutu aphis berkembang biak dengan cepat dan menghasilkan keturunan yang sangat banyak. Selain berperan sebagai hama, kutu aphis juga menjadi vektor penyakit virus. Serangan kutu aphis dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 40 persen. Serangan hama kutu aphis dapat dikendalikan dengan penanaman serempak dan penyemprotan insektisida berbahan aktif heksitiazok apabila jumlahnya sudah mencapai ambang kendali.