Harga Gabah Melambung Tinggi di Indramayu


Pertanianku – Belum lama ini harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Indramayu melambung tinggi. Hal ini disebabkan oleh berakhirnya musim panen gadu di sejumlah wilayah di Indramayu. Namun, situasi tersebut tak membuat tengkulak enggan membelinya.

Foto: pixabay

Seperti dilansir Republika, di sejumlah sentra penggilingan padi, harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani telah menembus Rp5.800—Rp6.000 per kilogram (kg). Harga itu melonjak dari harga sebulan lalu yang masih mencapai Rp5.000 per kg.

Sementara, harga kering panen (GKP), saat ini mencapai Rp4.500—Rp4.800 per kg. Sebulan lalu, harga GKP di tingkat petani hanya di kisaran Rp4.500 per kg.

Harga gabah di tingkat petani tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah (HPP). Untuk GKP, HPP-nya hanya Rp3.700 per kg. Adapun HPP GKG sebesar Rp4.600 per kg di tingkat penggilingan dan Rp4.650 per kg di gudang Bulog.

“Harga gabah ini tinggi karena panen telah selesai,” terang Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang.

Sutatang mengungkapkan bahwa berakhirnya masa panen membuat produksi gabah menjadi berkurang. Kondisi itulah yang menyebabkan harga gabah menjadi naik. Meski demikian, para tengkulak tetap berani membelinya.

Tingginya harga gabah juga disebabkan berkurangnya produksi padi milik petani akibat serangan hama, terutama wereng dan hama kerdil hampa (klowor). Kenaikan harga itu dimaksudkan agar para petani bisa mengurangi kerugian akibat menurunnya produksi.

Lanjut Sutatang, meski harga gabah saat ini tinggi, tapi sejumlah petani tetap memilih menyimpan sebagian gabahnya. Hal itu dimaksudkan sebagai tabungan untuk modal musim tanam rendeng (penghujan) mendatang.

Salah seorang petani di Kecamatan Jatibarang, Adi, mengaku, harga gabah yang mencapai Rp 6.000 per kg sangatlah tinggi. Meski demikian, keuntungan yang diperolehnya tak terlalu tinggi.

Baca Juga:  Tips Mudah Budidaya Tomat Organik

“Hasil panen menurun sampai 50 persen karena hama klowor,” ujar Adi.

Ia mengaku hanya menjual separuh dari hasil panennya dan akan menjual sisanya saat sudah mendekati musim tanam rendeng.

“(Tengkulak) sih banyak yang minta. Tapi saya tetap menyimpan sebagian, tidak dijual seluruhnya,” terang Adi.

loading...
loading...