Harga Gabah Simpan Petani Mengalami Kenaikan


Pertanianku – Beras merupakan komoditas utama bangsa Indonesia. Pasalnya, hampir seluruh masyarakat mengonsumsi nasi. Oleh karena itulah, terkadang harga beras tidak fluktuatif. Seperti belum lama ini, harga gabah simpan milik petani di Kabupaten Indramayu mengalami kenaikan. Padahal, Bulog Indramayu terus melakukan penyerapan.

Lantas, apa penyebab harga gabah simpan milik petani di Indramayu naik?

Berdasarkan pantauan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Indramayu, harga gabah kering simpan di tingkat petani ditawar oleh tengkulak sebesar Rp5.000 per kg. Harga itu mengalami kenaikan dibanding seminggu sebelumnya yang mencapai Rp4.500—Rp4.800 per kg.

Besaran harga itu lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah (HPP). Berdasarkan Inpres No. 5 Tahun 2015, HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani hanya Rp3.700 per kg dan gabah kering giling (GKG) Rp4.600 per kg. Untuk gabah kering simpan, selama ini kualitasnya di atas GKP, tetapi di bawah GKG.

“Kenaikan harga gabah salah satunya akibat panen rendeng yang sudah berakhir,” kata Wakil Ketua Kontak Tani Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, seperti melansir Antaranews (4/5).

Untuk petani yang belum panen rendeng, hanya sebagian kecil di Kecamatan Patrol, Sukra, Anjatan, dan Bongas. Hal itu dikarenakan mereka melakukan tanam tiga kali pada 2016 lalu sehingga baru panen pada Januari 2017.

Sutatang mengatakan, berakhirnya masa panen membuat sejumlah petani memilih menyimpan gabahnya. Mereka baru bersedia mengeluarkan simpanannya itu jika ada yang berani membeli dengan harga tinggi. “Akhirnya tengkulak berani membeli dengan harga tinggi asal mereka bisa dapat gabah,” lanjutnya.

Lebih lanjut Tatang mengungkapkan, selain berakhirnya panen rendeng, kenaikan harga gabah juga diakibatkan berkurangnya produksi panen milik petani. Hal itu disebabkan banyaknya serangan berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman padi seperti ulat grapyak, wereng, dan tikus.

Baca Juga:  Mentan Yakin Kekeringan Tak Akan Ganggu Stok Pangan

Menurut Sutatang, banyaknya OPT tersebut dikarenakan musim tanam yang tidak terputus selama 2016 akibat fenomena La Nina. Kondisi itu pun menyebabkan siklus OPT yang juga tidak terputus. “Kemarau basah (La Nina) membuat serangan hama meningkat berkali lipat dan membuat hasil panen berkurang,” tambahnya.

Sutatang menyebutkan, akibat kondisi itu, hasil panen petani menyusut hingga 20 persen. Dalam kondisi normal, produksi padi biasanya mencapai delapan ton per hektare. Namun, kali ini turun, hanya di kisaran tujuh ton per hektare atau kurang dari itu.

Sutatang memprediksi, tingginya harga gabah akan menyulitkan Bulog dalam melakukan penyerapan. Pasalnya, harga gabah di tingkat petani jauh lebih tinggi dibandingkan HPP. “Petani juga lebih memilih menjual gabahnya ke tengkulak karena lebih mahal,” tutup Sutatang.

loading...
loading...