Harga Lada Kian Tak Menjanjikan, Petani Ganti Tanaman


Pertanianku — Selain kopi, Provinsi Lampung sejak lama terkenal dengan komoditas unggulannya, yaitu lada. Akan tetapi, saat ini banyak petani lada berkeinginan mengganti tanaman akibat harga lada tak lagi menjanjikan. Perlahan, para petani mengganti tanaman komoditas itu dengan cokelat, kopi, dan jagung.

harga lada
Foto: Pixabay

Saat ini harga lada di tingkat petani berkisar Rp25 ribu hingga Rp37 ribu per kg. Padahal, lada hitam pernah tembus Rp120 ribu per kilogram pada 2016 lalu. Namun, sejak dua tahun terakhir, dan memasuki awal 2019, harga lada cenderung merosot.

“Sekarang harga lada Rp37 ribu per kilogram. Tahun lalu hanya Rp30 ribu,” kata Hafaz, petani lada di Desa Hanura, Kecamatan Hanura, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Jumat (25/1) seperti dikutip dari laman Republika.

Hafaz memaparkan harga lada di Lampung sudah jatuh sejak dua tahun terakhir. Kisaran harga di tingkat petani hanya Rp30 ribu sampai 50 ribu per kilogram. Menurutnya, para petani lada di Hanura mulai beralih ke tanaman cokelat dan kopi. Mereka tidak mampu bertahan dengan mengandalkan lada karena kebutuhan keluarga.

Petani lada dari Desa Gebang, Teluk Pandan, Pesawaran, Sri, mengungkapkan hal senada dengan Hafaz. Ia mulai beralih menanam kopi karena harga lada tidak lagi menjanjikan. Penjualan lada tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Sri melanjutkan, jika harga lada berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, baru bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan balik modal. Sementara, dua tahun terakhir harga lada mentok Rp50 ribu per kilogram. Padahal, kebutuhan keluarga dan biaya anak sekolah meningkat.

Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur. Salah seorang petani lada di Desa Wana, Fitri, menuturkan harga lada hanya berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Petani lada di desa ini pun terus berkurang karena hasil penjualan lada tidak bisa menutupi modal menanamnya. “Banyak yang tidak lagi berkebun lada, mereka beralih ke cokelat atau jagung,” tutur Fitri.

Baca Juga:  Pasar Tani, Jalan Temu Petani dengan Konsumen

Nasin petani lada di Pekalongan, Lampung Timur juga serupa dengan petani lada lainnya. Banyak dari mereka (petani lada) beralih mengembangkan tanaman lain.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Dessy Desmaniar Romas, anjloknya harga lada di Lampung lebih kepada mutu komoditas yang mengalami penurunan karena faktor cuaca. Faktor lainnya adalah lada asal Vietnam mulai menguasai pasar global.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung akan menyiapkan bibit unggul baru dan melakukan upaya pencegahan penyakit tanaman lada. Harapannya, upaya tersebut mampu mengembalikan kejayaan komoditas lada Lampung di dunia yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung dan Indonesia.