Harga Singkong Kembali Anjlok, Petani Enggan Panen


Pertanianku – Harga singkong dikabarkan kembali anjlok. Di Indonesia sendiri bisa dikatakan harga singkong kerap tidak stabil. Sejumlah petani singkong di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, enggan memanen singkong gajah akibat harga bahan baku tepung ini yang jatuh hingga titik terendah, yakni sekitar Rp450 per kilogram (kg).

“Harga itu jauh dari ambang batas normal harga singkong yang sebelumnya sempat di kisaran Rp1.200 per kg,” kata Imbang Sunardi, seorang petani singkong organik di Tulungagung, seperti melansir Republika (26/7).

Imbang mengaku memiliki bisnis pertanian singkong seluas 25 hektare di wilayah Tulungagung selatan. Namun, akibat harga jenis ubi-ubian tersebut selama 1,5 tahun terakhir anjlok, Imbang mengaku memilih tidak memanen singkong gajah miliknya, meski telah memasuki masa panen umur delapan bulan.

“Harga itu untuk ganti ongkos buruh panen dan angkutan dari lokasi ke titik distribusi penjualan saja tidak cukup. Mending dibiarkan saja sambil menunggu harga membaik,” ungkapnya.

Setuju dengan pernyataan Imbang, petani singkong gajah lain bernama Herman juga mengeluhkan hal serupa. Tanaman singkong gajah miliknya seluas 12 hektare di daerah Sidem, Tulungagung, saat ini hanya dipanen separuhnya, dipilih tanaman yang lokasinya dekat akses jalan.

“Sisanya tidak dipanen karena hitung-hitungannya tidak ‘nyucuk’, besar pasak daripada tiang alias merugi,” ucap Herman.

Keduanya mengaku tidak tahu persis penyebab jatuhnya harga singkong yang berkepanjangan tersebut. Herman dan Imbang Sunardi hanya berspekulasi bahwa kondisi tidak menguntungkan tersebut diduga dipicu oleh membanjirnya tepung serta ketela impor dari beberapa negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam dan Thailand.

“Beberapa pabrikan tepung nasional juga gulung tikar akibat tidak ada pasokan singkong. Petani enggan panen dan kirim singkong jika harga tidak menguntungkan,” lanjut Herman.

Baca Juga:  Festival Danau Toba 2017 Siap Digelar Minggu Kedua Desember

Masalah-masalah yang dihadapi oleh para petani singkong sempat disampaikan paguyuban petani se-Tulungagung ketika bertemu anggota DPR dan juga sejumlah pejabat kementerian dan pemangku kepentingan lain untuk dibantu agar harga singkong kembali membaik dan stabil.

“Semua upaya itu tidak membuahkan hasil. Solusi yang mungkin sebenarnya dengan membangun industri hilir di pengolahannya, namun itu butuh investasi besar, pemerintah daerah juga tidak punya opsi solusi soal ini,” tutur Imbang.

Imbang dan Herman mengaku selama ini mengirim singkong hasil panen dan pengepulan mereka dari petani-petani kecil lain ke pabrikan singkong di Ponorogo, Jawa Timur.

loading...
loading...