Hari Pangan Sedunia: Tantangan Petani dari Tahun ke Tahun

Pertanianku — Tiap Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia (World Food Day). Petani memiliki peran penting untuk memenuhi seluruh kebutuhan pangan, terutama di Indonesia. Namun, hingga saat ini petani masih harus berjuang menghadapi permasalahan pertanian untuk berhasil menghasilkan pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

hari pangan sedunia
foto: pixabay

Prof. Dra. M.A. Yunita Triwardani Winarto, M.S., M. Sc., Ph.D menyampaikan pengalamannya ketika bertemu seorang petani yang masih merasakan era pertanian sebelum terjadinya revolusi hijau.

“Saya bersyukur bahwa pada tahun 1990 saya masuk ke sawah di Kampung Ciasem, Subang. Saat itu masih ada petani yang berumur 70-an tahun yang masih mengalami masa-masa sebelum revolusi hijau. Ada juga petani 50-an tahun tapi waktu itu sudah bekerja sebagai petani membantu orangtua pada masa sebelum revolusi hijau,” tutur Prof. Yunita dalam webinar Bincang-Bincang Wisma Hijau yang bertajuk No Farmers, No Food, No Future pada Jumat (16/10).

Loading...

Sebelum terjadinya revolusi hijau, petani cenderung merasa merdeka karena bisa menanam varietas tanaman yang mereka suka dengan cara menanam yang mereka bisa. Petani bisa bebas mulai menanam kapan saja dan di mana saja.

Dahulu, sebelum masa revolusi, petani sudah merasa cukup ketika hanya mendapatkan panen sebesar 1—2 ton. Mereka sudah bisa tenang merasakan hasil kerja keras yang sudah berlangsung selama 7 bulan.

Namun, setelah revolusi hijau dimulai, petani sudah harus menanam tanaman yang ditetapkan oleh pemerintah. Waktu, lokasi, hingga cara menanam pun ditentukan oleh pemerintah. Sebenarnya, seluruh peraturan tersebut membuat hasil panen yang didapatkan petani meningkat hingga 7 ton.

Hanya saja, sistem tersebut membuat petani menjadi resah dan selalu merasa khawatir. Takut kalau sehari saja tidak ke sawah akan ada hama yang menyerang sehingga membuat mereka harus menanggung gagal panen.

Baca Juga:  Mentan Dorong Swasta Jadi Penggerak Urban Farming di Perkotaan

Yunita merasakan bahwa petani menjadi target pembangunan pertanian, konsumen sarana produksi pertanian, serta penanggung risiko. Mereka menjadi salah satu bagian yang harus menjalankan program pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, secara tidak sadar mereka juga menjadi konsumen produk-produk pertanian. Dan, petani juga yang harus menanggung risiko ketika terjadi gagal panen yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor.

Tantangan lain yang masih dihadapi oleh petani adalah serangan hama dan penyakit yang berkelanjutan serta perubahan iklim. Misalnya, serangan hama wereng batang cokelat di lahan sawah Balongan, Indramayu, yang baru saja terjadi. Meskipun petani serta alumni-alumni dalam bidang pengendali hama terpadu sudah berusaha, serangan hama masih tetap berlangsung dan menjadi lebih kompleks karena perubahan iklim.

Konsekuensi dari perubahan iklim tersebut adalah meningkatnya keragaman iklim, meningkatnya suhu global, serta semakin sering dan parahnya peristiwa ekstrem. Hal tersebut menyebabkan risiko pertanian menjadi sulit terkendali dan tidak menentu.

“Semakin bertambahnya jumlah hari kering, semakin berkurangnya jumlah hari basah,tapi intensitas dan distribusi curah hujan yang sulit diduga, lalu peristiwa El Nino dan La Nina semakin tidak teratur,” papar Yunita.

Edukasi dan literasi kepada petani itu sangat penting, selain memberikan semacam perkembangan teknologi. Dengan adanya edukasi, petani bisa berkembang menghadapi berbagai permasalahan yang selalu ada setiap waktu.

Loading...
Loading...