Harimau Sumatera, Top Predator yang Menjaga Keseimbangan Ekosistem


Pertanianku Harimau sumatera (panthrea tigris sumatrae) berfungsi menjaga keseimbangan eksosistem sehingga habitatnya harus dijaga dari berbagai ancaman.

HArimau sumatera
Hariansinggalang

Staf Komunikasi dan Pelaporan Tiger Project pada Manajemen Unit Sumatera Tiger UNDP Hizbullah Arief mengatakan, fungsi harimau sumatera sebagai top predator itu mengontrol populasi satwa mangsa di bawahnya.

“Kalau harimau hilang maka satwa mangsa seperti rusa, babi hutan akan berkembang biak tanpa kontrol,” kata dia saat kegiatan Advokasi Konservasi Harimau Sumatera di Jambi, Kamis (7/11).

Dia menuturkan, perkembangbiakan satwa mangsa harimau sumatera itu nantinya bisa masuk dan mengacaukan ladang penduduk. Satwa-satwa itu juga akan menjadi hama yang sulit dikendalikan.

“Babi hutan berkembang biak yang menjadi hama itu terjadi di Jambi, dan masyarakat sudah tahu. Jadi sebenarnya tinggal pemahaman masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga habitat Harimau Sumatera,” ujar Arief.

Menurutnya, pola pikir masyarakat yang selama ini menganggap bahwa harimau sumatera itu sebagai ancaman harus segera diubah. Masyarakat harus diberikan pemahaman pentingnya menjaga kelestarian harimau sebagai top predator sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem fauna.

Arief berharap, melalui kegiatan Advokasi Konservasi Harimau Sumatera yang melibatkan sejumlah instansi tersebut, dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keberadaan harimau sumatera.

“Jika masyarakat sudah mendapatkan pengetahuan tentang itu, maka masyarakat akan bekerja sama dengan pihak penegak hukum untuk melakukan pengawasan,” tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan data analisis populasi terbaru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2017, populasi harimau sumatera di alam liar saat ini kurang dari 700 ekor.

Arief menjelaskan, populasi harimau sumatera tersebut terus terancam oleh berbagai faktor. Di antaranya deforestasi, alih guna lahan, perburuan liar, dan konflik dengan manusia. Tercatat ada 1.065 kasus konflik antara manusia dan harimau di Pulau Sumatera dari 2001 hingga 2016, katanya menambahkan.

Baca Juga:  Indonesia Didukung Dua Organisasi PBB Soal Kelapa Sawit
loading...
loading...