Hati-hati! Jangan Sembrono Soal Teknologi Off-Season


Pertanianku Teknologi off-season adalah teknologi untuk memproduksi buah di luar musimnya. Penerapan teknologi ini merupakan peluang bisnis yang sangat menarik. Namun, seringkali teknologi ini tidak diterapkan dengan bijak hanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, apalagi jika yang menerapkan adalah pedagang-pengijon, tengkulak dan pemborong.

Teknologi off-season
Foto: Pixabay

Tujuan teknologi ini ada dua. Pertama, murni motif ekonomi untuk menaikkan harga komoditas buah-buahan jadi lebih tinggi dibanding ketika dalam musimnya (on season). Kedua, agar buah-buahan tersebut dapat tersedia sepanjang tahun. Komoditas buah-buahan yang sudah teruji berhasil dalam penerapan teknologi off-season adalah lengkeng, durian, mangga, apel, jeruk, dan jambu air.

Satu contoh penerapan teknologi yang tidak bijak misalnya jauh sebelum musim mangga mulai, para pengijon sudah mendatangi petani/pekebun mangga. Mereka kemudian mengontrak-mengijon mangga lebih tinggi daripada harga pasaran biasa, petani senang bukan main karena dalam benaknya akan ada keuntungan besar yang ia dapat.

Setelah deal dengan petani, para pengijon mengaplikasikan zat pengatur tumbuh (ZPT), yang menghentikan fase vegetatif serta memunculkan fase generatif bunga dan buah. Biasanya dengan aplikasi ZPT, masa berbuah mangga akan maju dua bulan sebelum musimnya dan sangat lebat.

Pengijon untung besar karena selain harga, kuantitas produksi mangga pun berlipat. Petani berpandangan bahwa pengijon sedang beruntung karena anugerah alam. Namun kemudian, petani baru sadar ketika sehabis panen, pohon-pohon mangganya tidak segera pulih.

Semakin hari, pohon mangganya semakin merana, daunnya banyak yang mengering, gugur atau mengeriting. Selain itu, dahan ranting mengerut dan mudah patah (getas), daya tahan tanaman lemah (mudah terserang hama dan penyakit), dan tak jarang panen tersebut jadi panen terakhir karena pohon akhirnya mati.

Baca Juga:  Begini Cara Membuat Bibit Kakao Unggul

Hal terburuk yang mungkin bisa terjadi karena penerapan yang sembrono dari teknologi off-season ini adalah terganggunya daur/rantai ekologi. Bisa jadi pula terjadi bencana ulat bulu seperti yang terjadi di Probolinggo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu yang kemungkinan akibat dari penerapan teknologi off-season pada tanaman mangga setempat.

Umumnya, ulat dalam satu tahun akan berkembang biak dan menyerang tanaman mangga sebagai makanan, namun hanya satu musim. Meski terkesan merugikan, hal ini justru membawa manfaat bagi daur hidup mangga. Sebab, setelah daun mangga dimakan ulat, akan tumbuh lagi tunas dan daun yang lebih sehat. Selanjutnya, tanaman mangga siap berbuah pada musimnya.

Akan tetapi, dengan teknologi off-season, perkembangbiakan ulat mangga kemungkinan tidak lagi terputus dalam satu musim. Mereka terus berkembang sepanjang tahun. Akibatnya, jumlahnya berlipat luar biasa.

Di lain pihak, karena off-season pula, tanaman mangga menjadi miskin daun yang menjadi makanan bagi ulat. Serangan ulat pada mangga melampaui daya dukungnya. Akibatnya, Anda bisa menyaksikan sendiri, ulat bulu menjadi bencana.