Hewan yang Bisa Hasilkan Tabir Surya Alami


Pertanianku — Sebelum memulai aktivitas luar ruangan, banyak di antara kita kerap menggunakan losion tabir surya terlebih dahulu. Tabir surya jenis apa yang biasa Anda gunakan? Nah, sudah tahukah Anda bahwa ada beberapa hewan yang bisa hasilkan tabir surya alami?

tabir surya alami
Foto: Google Image

Penggunaan tabir surya dilakukan supaya kulit terhindar dari risiko terpanggang sinar matahari. Pasalnya, terpapar sinar matahari dalam waktu lama bisa mengakibatkan kulit jadi gosong.

Lalu, bagaimana dengan kulit hewan yang sepanjang harinya selalu melakukan aktivitas di bawah terik sinar matahari? Dari pertanyaan ini, munculah ide untuk meneliti bagaimana cara hewan melindungi kulitnya dari panas sinar matahari? Apakah mereka bisa memproduksi zat yang bisa digunakan manusia sebagai losion tabir surya alami?

Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat di jurnal eLife, sejumlah ikan, burung, hewan amfibi dan reptil ternyata memiliki gen yang mampu memprodusi gadusol. Itu adalah senyawa yang berfungsi sebagai tabir surya untuk melindungi kulit hewan dari sengatan panas matahari.

Senyawa gadusol akan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari paparan sinar matahari dan mengubahnya menjadi panas. Lantas, hewan apa sajakah itu? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

  1. Ikan Zebra

Ikan zebra diketahui memiliki senyawa gadusol yang dinilai mampu melindungi kulit manusia dari sengatan sinar matahari. Akan tetapi, gadusol pada ikan zebra berfungsi sebagai senyawa untuk mempercepat proses reproduksi (pengembangan embrio).

  1. Udang Mantis

Dalam laporan yang dimuat di jurnal Current Biology pada 2014 lalu, dijelaskan bahwa pada mata udang mantis terdapat pigmen asam amino MAA. Itu mereka gunakan sebagai filter untuk mendapatkan penglihatan yang tajam. Nah, menurut para peneliti, MAA yang dihasilkan hewan krustasea tersebut bisa saja digunakan sebagai tabir surya alami untuk manusia.

  1. Kuda Nil
Baca Juga:  Hubungan Agrowisata dan Era Revolusi Industri 4.0

Kuda nil pernah diduga mengeluarkan darah saat berkeringat. Ini karena keringatnya yang mengandung dua warna pigmen berbeda, yakni pigmen orange dan merah. Dalam laporan studi yang dimuat di jurnal Nature pada 2004 dijelaskan bahwa pigmen berwarna merah yang terdapat pada keringat kuda nil mengandung antibiotik.

Sementara itu, pigmen orangenya berguna untuk menyerap sinar ultraviolet dalam melindungi kulitnya dari kerusakan akibat paparan sinar matahari.