Hujan Hanya Turun di Satu Rumah Saja, Begini Penjelasan BMKG


Pertanianku – Fenomena unik yang tak biasa terjadi di Tebet, Jakarta Selatan, menjadi perbincangan banyak netizen. Bagaimana tidak, video yang diunggah oleh akun Twitter @febicil baru-baru ini cukup menghebohkan sosial media. Pada video tersebut menggambarkan hujan yang hanya mengguyur satu rumah, sedangkan rumah lainnya tampak kering.

“Ada hujan yang turun di satu rumah doang di Tebet, kiri kanan-nya kering,” tulisnya di akun @febicil.

Banyak netizen bertanya-tanya, mungkinkan hujan hanya turun di area seluas satu rumah?

Hal tersebut langsung ditanggapi oleh Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Halimurrahman, yang mengungkapkan, luas area yang diguyur hujan bergantung pada kandungan air di suatu wilayah. Sebagai fenomena alam, hujan juga dipengaruhi oleh sejumlah parameter seperti proses konveksi dan angin.

Halimurrahman mengatakan bahwa bisa saja hujan lokal terjadi dalam luas area sekitar 500 meter. Namun, ukuran tersebut juga sangat relatif.

“Sangat dinamis, rata-rata bisa hujan rintik dan bisa juga hujan deras. Sangat tergantung pada kondisi lingkungan yang memungkinkan di daerah itu,” ungkap Halimurrahman seperti diberitakan oleh Kompas (28/8).

Dengan kata lain, turunnya hujan yang hanya dialami oleh satu rumah mungkin saja terjadi. Dari peristiwa tersebut, sang pemilik rumah, Muzakir, mengatakan bahwa turunnya hujan yang hanya dialami oleh rumahnya tersebut berlangsung selama enam jam.

Halimurrahman mengatakan, jika dilihat dari rentang waktunya, hujan yang terjadi diakibatkan oleh awan Kumulonimbus (Cb). Awan Kumulonimbus punya ukuran yang cukup besar.

“Awan besar biasanya tidak mungkin satu lokasi sebesar rumah. Kalau hujan skala kecil ya singkat biasanya. Sulit untuk diperoleh faktanya ya secara ilmiah,” tuturnya.

Deputi Klimatologi BMKG, Mulyadi Rahadi Prabowo, sebelumnya pernah berkata bahwa Indonesia masih mengalami musim kemarau yang baru diperkirakan berakhir pada September mendatang.

Baca Juga:  Garam Termahal di Dunia Berasal dari Indonesia, Benarkah?

Berdasarkan data monitoring BMKG pada 20 Agustus lalu terhadap hari tanpa hujan berturut-turut, mayoritas Pulau Jawa berada dalam klasifikasi panjang. Ini artinya, selama 21 hingga 30 hari intensitas hujan tidak akan ada berturut-turut.

loading...
loading...