Ikan Sidat, Biota yang Dilindungi Terbatas

Pertanianku Ikan sidat (Anguilla spp.) termasuk ikan katadromus, yaitu tumbuh di perairan tawar dan memijah di laut. Di dunia terdapat 22 jenis sidat dan tujuh di antaranya terdapat di Indonesia. Saat ini sidat sudah menjadi biota yang dilindungi terbatas berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 80/KEPEM-KP/2020 dengan status perlindungan terbatas berdasarkan periode waktu dan ukuran tertentu.

ikan sidat
foto: pertanianku

Perlindungan terbatas tersebut diberikan pada semua benih spesies ikan sidat di stadium glass eel (ukuran 40—60 mm), benih tersebut tidak boleh ditangkap setiap bulan genap tanggal 27—28 Hijriah. Perlindungan juga diberikan pada A. bicolor dan A. interioris dewasa dengan bobot di atas 2 kg, serta A. marmorata dan A. celebensis dewasa dengan berat di atas 5 kg. Keempat jenis sidat tersebut tidak boleh ditangkap sepanjang waktu.

  1. bicolor memiliki punggung berwarna kehitaman hingga kecokelatan. A. interioris memiliki kulit bercorak dengan panjang maksimal 80 cm. A. marmorata berciri-ciri hampir mirip dengan A. interioris, tetapi ukurannya lebih besar dengan bentuk gigi yang lebih runcing. Terakhir, A. celebesensis juga mempunyai ciri-ciri seperti A. interioris dengan panjang maksimal mencapai 150 cm.

Sidat merupakan sumber daya perairan bernilai ekonomi penting. Namun, jumlah populasi ikan sidat terus mengalami penurunan, sedangkan permintaannya terus meningkat. Misalnya, sidat jepang (Anguilla japonica), sidat amerika (A. rostrata), dan sidat eropa (A. Anguilla) sudah berada di ambang kepunahan.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan dan konservasi ikan sidat tropis untuk menjaga keberlanjutan sumber daya sidat di perairan Indonesia sehingga sidat tidak termasuk kategori hewan terancam punah.

Berdasarkan habitat daur hidupnya, sidat memiliki tiga fase, yakni fase di lautan, esturasi, dan darat. Siklus hidup sidat terdiri atas larva, benih, ikan sidat muda, dan sidat dewasa.

Baca Juga:  Jenis-jenis Kolam Ikan untuk Budidaya Sesuai Fungsinya

Larva merupakan fase kritis bagi sidat karena sidat harus melakukan dua kali adaptasi lingkungan, yaitu fase glass eel di air tawar dan fase silver eel di laut. Selain beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, pada fase ini sidat harus menempuh jarak yang jauh. Fase larva berlangsung selama 180—240 hari. Masa kritis ini terbilang panjang sehingga menyebabkan tingkat kematiannya tinggi. Oleh karena itu, potensi penurunan populasi sidat di alam relatif tinggi.