Indonesia Kembangkan Pangan Lokal Menuju Lumbung Pangan 2045


Pertanianku — Sampai saat ini, Indonesia masih berupaya untuk mencapai misi sebagai lumbung pangan dunia pada 2045. Kementerian Pertanian bahkan sudah memiliki cetak biru. Bukan hanya berbasis beras, cetak biru ini juga mencakup semua komoditas lokal.

lumbung pangan
Foto: Blog UMY Community

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir mengatakan, pangan lokal menjadi kekuatan bangsa, kekayaan bangsa yang terbesar di dunia. Pemberdayaan pangan lokal juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor gandum sebagai bahan baku terigu.

“Dan hari ini kita menunjukkan bahwa teknologi sudah siap (dalam memanfaatkan pangan lokal),” katanya dalam acara Pangan Lokal Fiesta di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Kampus Pertanian Cimanggu, Bogor, seperti dilansir Republika Kamis (8/11).

Poduk yang dihasilkan dari pangan lokal seperti ubi kayu, sorgum, jagung, dan hanjeli juga mampu diterima masyarakat. Beberapa olahan yang banyak dihasilkan adalah nasi, mi dan lainnya.

“Sudah ada beberapa testimoni bahwa ini enak dan beberapa perusahaan sudah siap mengembangkan mi berbasis pangan lokal,” kata dia. Perusahaan tersebut yakni PT Maxindo Karya Anugerah, PT Sampoerna Agro, Tbk., dan CV Agro Nirmala Sejahtera.

Kepala Balitbangtan Muhammad Syakir, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Michael Wattimena, dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi pun berkesempatan menikmati mi nongandum pada acara tersebut.

Sementara, untuk daerah yang sudah mengonsumsi pangan lokal dalam jumlah besar diajak bekerja sama untuk terus membangkitkan kembali pangan lokal. Ia menambahkan, Balitbang telah memetakan produksi pangan local. Untuk sorgum, diakuinya tumbuh baik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Basis utama terbesar sagu berada di Papua dan Maluku begitu juga dengan ubi kayu yang sudah banyak diolah dan dikonsumsi masyarakat.

Baca Juga:  Penuhi Kebutuhan, Indonesia Masih Impor Singkong

“Jadi sekarang kita sudah memulai, sudah mengimplementasikan karena sesuatu inovasi baru harus diinovasikan dan diimplementasikan secara besar-besaran,” ujarnya. Dengan begitu, Indonesia mampu mandiri pangan berbasis pangan lokal dan mengurangi impor pangan berbasis gandum secara signifikan.

Wakil Komisi IV DPR RI Michael Wattimena mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi pangan lokal tersebut. Sebab, untuk memberdayakan masyarakat lokal yang ada dengan potensi lokal yang dimiliki.

“Apa yang dilakukan litbang (Balitbangtan) sekarang ini kami sangat mengapresiasi, sangat mendukung untuk ke depannya ditingkatkan kemajuan melalui teknologi,” katanya.

Dukungan yang diberikan termasuk menyangkut anggaran. Michael mengakui, semua aktivitas bisa dapat terimplementasi dengan baik jika terfasilitasi dengan anggaran yang tersedia.

Anggaran di Kementan untuk litbang menurutnya cukup mumpuni guna mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan potensi-potensi pangan lokal yang ada. Dengan begitu, Indonesia tidak ketergantungan pada hanya salah satu produk pangan yang ada.